Page 84 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 84
"Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wabarakatuh." Aku
menjawab walaupun ibu sudah tidak terdengar suaranya.
***
Aku adalah seorang pemuda berumur 30 tahun. Bapak
memberi nama Arman Putra Langit. Saat kelahiranku bapak
senang sekali, karena memang menginginkan anaknya laki‐
laki. Sayang bapak meninggalkan kami saat aku duduk di
kelas dua SMA. Beliau tiba‐tiba jatuh ketika salat Subuh
berjamaah di masjid. Menurut dokter, bapak kena serangan
jantung.
Ibu kemudian menggantikan peran bapak sebagai kepala
keluarga. Ibu yang semula wanita biasa, menjadi tangguh
karena keadaan. Menjadi pedagang batik pilihannya. Awalnya
berjualan keliling, sekarang sudah mempunyai kios sendiri.
Ibu membiayai sekolahku dari hasil berjualan batik.
Semenjak lulus kuliah dan mendapat pekerjaan, aku sudah
bilang pada ibu untuk berhenti berjualan. Namun, ibu
menolak. Wanita yang melahirkanku itu menyuruh agar
penghasilan yang kudapat ditabung saja. Beliau bilang untuk
persiapan ketika menikah nanti.
Alhamdulillah, penghasilanku cukup untuk hidup di kota
besar. Ibu tetap tinggal di Purbalingga, kota kecil di kaki
Gunung Slamet. Tak terasa pukul 4 pagi aku sampai di kota
kelahiranku. Ibu sudah menanti. Wajah bahagianya terlihat
jelas. Dimasaknya air untuk mandiku. Selesai mandi sudah
terhidang nasi merah dan mendoan. Sungguh nikmat
rasanya.
Ibu mempunyai rencana selepas zuhur akan mengunjungi
keluarga Pak Anwar, sahabat almarhum ayah. Aku diminta
72 | 80 Cerpenis MediaGuru

