Page 83 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 83
Ibuku Sayang
Oleh : Erni Setianingrum
H tak tampak. Rembulan pun seakan
ujan membasahi bumi dengan lebatnya. Bintang‐
bintang
bersembunyi, membiarkan kegelapan menyelubungi
bumi. Udara terasa sangat dingin. Aku dalam perjalanan
pulang dengan kecepatan sedang mengendarai si hitam,
Avanza kesayangan.
Masa pandemi tidak mudah bagiku mendapatkan ijin
keluar kota. Sebagai manajer di bagian penyuplai sembilan
bahan pokok, kesibukan makin bertambah. Berkat kelihaian
Pak Herman dalam bernegosiasi, maka perusahaan ini
menjadi salah satu penyuplai bantuan sosial. Hal ini yang
menyebabkan agak sulit meminta izin. Namun, Ibu tidak mau
tahu. Ibu ingin aku segera pulang. Beliau mengatakan, ada hal
penting yang harus dibicarakan.
"Ibu tidak mau tahu, pokoknya kamu harus pulang,"
sentak ibu ketika tempo hari menelepon.
"Tapi minggu ini Arman tidak bisa, Bu. Pekerjaan sedang
meningkat volumenya. Tenaga yang ada saja sudah
kewalahan mengerjakannya, apalagi kalau Arman izin." Aku
berusaha menjelaskan pada ibu.
"Bagaimana pun caranya, kamu harus bisa pulang!" jawab
ibu, "badan Ibu pegal‐pegal. Ibu mau minta pijit dulu sama
Mak Inah. Sudah ya, Arman. Assalamu'alaikum."
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 71

