Page 85 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 85
menemani. Kami pun berangkat ke rumah Pak Anwar yang
masih satu kecamatan, tetapi lain desa. Tiba di sana, kami
disambut Pak Anwar dan keluarga.
Tiba‐tiba Ibu menyampaikan niatnya ingin melamar putri
Pak Anwar. Aku kaget dan tidak bisa berkata‐kata. Menolak
perjodohan tentu akan membuat ibu malu. Aku hanya
menunduk dan pasrah. Akhirnya disepakati pernikahan akan
dilaksanakan satu bulan lagi.
Satu bulan kemudian, aku melangsungkan pernikahan
dengan Wulan, putri Pak Anwar. Acara dilaksanakan secara
sederhana, mengingat masih suasana pandemi. Ibu terlihat
gembira sekali. Selesai menikah, ibu memaksa pulang ke
rumah. Awalnya Pak Anwar dan istrinya keberatan, tetapi
akhirnya mengijinkan juga.
Pagi hari saat bangun tidur, aku tidak mendengar suara
ibu mengaji. Biasanya selepas Subuh beliau melantunkan
ayat‐ayat suci Al‐Qur’an. “Mungkin ibu lelah,”pikirku.
Sampai pukul 10 pagi pintu kamar ibu masih tertutup.
Mak Inah masuk ke kamar ibu bermaksud
membangunkannya, tetapi ibu tidak bergerak. Aku berteriak
dan tiba‐tiba pandanganku gelap.
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 73

