Page 59 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 59
Nasi Bungkus di Awal
Ramadhan
Oleh: Desi Fatma
S
enja merangkak malu‐malu menjemput malam.
Pancaran jingga di barat berganti gelap, bahkan kadang
kelam buta. Rinai yang tersesat di musim kemarau
seakan membasuh luka hati Marni senja itu. Dia pandangi
ketiga anaknya yang sedang menikmati nasi bungkus yang
diperoleh dari seorang dermawan dari kompleks sebelah.
Begitu lahapnya mereka makan. Marni kembali menyeka
embun yang mulai menetes di sudut netranya. “Andaikan
engkau masih bersama kami, Mas Agus. Mungkin anak‐anak
kita bisa mendapatkan makanan yang cukup,” jerit hatinya
lirih.
"Mak, ayamnya enak sekali, apakah Adek boleh nambah
lagi?" si bungsu Delia menerbangkan lamunan Marni.
Delia sedang menikmati suapan terakhirnya. Di tangannya
masih tersisa tulang ayam goreng yang terlihat sangat nikmat.
Tulang yang sudah tidak tersisa dagingnya, berulang kali
dimasukkan ke mulut. Dihisapnya dalam‐dalam dengan penuh
kenikmatan.
"Sudah, Dek, tulangnya kasih ke si belang ya. Kasihan tuh,
dari tadi cuma ngeliatin kita makan aja," ujar Annisa, anak
sulung Marni sambil meraih tulang di tangan Delia.
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 47

