Page 94 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 94

pikiranku,  jika  perbuatan  itu  merugikanku.  Hanya  semut
             merah yang menjadi saksi perbuatan menjijikkan itu.
                 Dia mulai berbisik. “Ingat, jangan pernah ceritakan pada
             siapa pun, karena nyawa ibumu yang menjadi taruhannya.”
                 Hatiku  semakin  bergetar.  Seluruh  tubuh  kaku,  ingin
             rasanya  menggigit  tangannya  yang  menekan  tubuhku.  Lagi‐
             lagi  aku  terdiam  membisu.  Perbuatan  itu  menjadi  candu
             baginya.
                 Ketika duduk di kelas enam madrasah ibtidaiyah, menjadi
             akhir  dari  segalanya.  Kulampiaskan  luka  di  hati,  kuluapkan
             cerita  pada  ibu.  Air  mata  meluap,  meringankan  beban  yang
             begitu dalam.
                 Tidak  terima  dengan  perbuatannya,  ibu  melaporkan
             kepada  pihak  yang  berwajib.  Polisi  datang  meringkusnya.
             Tidak hanya keluargaku yang menanggung malu, keluarganya
             pun  sama.  Sampai  saat  ini  aku  trauma  dengan  es  mega
             mendung.
























             82 | 80 Cerpenis MediaGuru
   89   90   91   92   93   94   95   96   97   98   99