Page 93 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 93

melintas  di  sana.  ‘Si  hidung  belang’  mulai  berhenti  dengan
              mengangkat badanku dari gronjong yang kutumpangi.
                  Belayan tangannya, meluas di seluruh tubuhku. Napasnya
              mulai    menggebu,      belaiannya     mulai    mencekam,
              menyadarkanku dari lamunan. Aku mulai bertanya. “Pak Lek,
              ada  apa  dengan  sikapmu  padaku?  Kenapa  tanganmu
              memegang pahaku?” Aku mulai ketakutan dengan sikapnya.
                  Dia  pun  berbisik,  “Diam  saja,  nanti  saya  beri  uang  dua
              puluh  ribu.  Jangan  bilang  siapa‐siapa,  jika  kamu  sampai
              bicara, ibumu akan kubunuh.”
                   Mendengar  ancamannya,  mulutku  terkunci.  Dia  mulai
              melampiaskan birahinya dengan menyetubuhiku. Aku dipaksa
              untuk  diam.  Rasa  sakit  yang  tak  berujung,  hanya  dapat
              kutahan dengan gigitan di bibir.
                  Kurang  lebih  sepuluh  menit,  dia  bergegas  melanjutkan
              perjalanan  ke  rumah  nenekku.Tanpa  rasa  bersalah,  dia
              berbicara selayaknya paman pengganti ayah pada nenekku.

                  Seminggu  kemudian,  dia  datang  menawarkan  jasanya
              untuk  mengantarku  ke  rumah  nenek  sambil  berjualan  es.
              Sontak  ayah  dan  ibu  menyetujui.  Mulutku  terbungkam.  Ya,
              sejujurnya  aku  tergiur  dengan  iming‐iming  uang  yang
              dijanjikan. Aku tidak pernah diberi uang sebanyak itu oleh ibu
              atau pun ayah. Aku kembali ikut dengannya. Meski pun rasa
              nyeri itu tetap ada.
                  Di tempat yang sama, dia mulai menurunkanku. Di bawah
              barongan  bambu,  aku  ditidurkan  dengan  sehelai  kain
              pengikat perutnya. Lagi‐lagi dia mengancamku dengan kata‐
              kata  yang  sama.  Saat  itu  aku  tidak  pernah  terbesit  di




                                  Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 81
   88   89   90   91   92   93   94   95   96   97   98