Page 96 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 96

Antara Pundak dan Napas


                                    Bapak


                              Oleh: Fika Firmananta


             B
                    elum  kering  embun  membasahi  kaca  jendela
                    kamarku,  samar  kudengar  suara  terompah  Wak  Haji
                    Hamid  pulang  dari  Surau  Krajan.  Suaranya  seolah
             sengaja diseret sepanjang pulang dan pergi ke surau. Suara
             yang  aku  benci,  tetapi  berterima  kasih  secara  bersamaan.
             Karena suara tarompah itu, aku bisa menandai pagi bermula.
                 “Siti,  ayo  segera  bangun,  waktu  subuh  hampir  habis.”
             Tegur  bapak  sambil  mengetuk  pintu  kamarku  diiringi  parau
             batuk yang mulai kambuh dua hari yang lalu. Setahun terakhir
             beliau menderita sakit bronkitis. Penyakit ini didapat setelah
             pulang merantau untuk bekerja pada lokasi pertambangan di
             Kalimantan Timur. Kini, ibu yang menopang tulang punggung
             keluarga sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta.
                 Belum usai aku berdoa, tiba‐tiba terdengar suara bapak
             mengasah arit yang baru dibelinya seminggu kemarin. Suara
             yang biasa kudengar setiap hari. Sembari melipat mukena aku
             mendekati bapak. Tampak keraguan di wajah tuanya. Entah
             rasa  was‐was  atau  seperti  firasat  yang  beliau  sendiri  sulit
             mengutarakannya.  Belum  sempat  aku  bertanya,  bapak
             bergegas melangkah sambil membawa arit ke ladang sambil

             berpesan, “Jika Kang Imam, bakul kelapa, ke sini, terima saja



             84 | 80 Cerpenis MediaGuru
   91   92   93   94   95   96   97   98   99   100   101