Page 97 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 97

uangnya.”  Sebelum  sempat  aku  jawab,  beliau  memalingkan
              wajah dan menjauh untuk melanjutkan langkahnya.
                  Seolah  tak  ikhlas,  kupandang  kepergian  bapak  sejauh
              kakinya melangkah menuju pekat kabut. Batinku memendam
              tanya, “Pak, sebelum ngarit sarapan dulu, setelah itu minum
              obat dari Pak Mantri. Toh Bapak belum sembuh.” Mencoba
              menghiraukan  perasaan  penuh  tanya,  seperti  pagi  biasanya
              aku mulai menyalakan tungku perapian untuk bersiap masak.
              Belum sempat api menempel di ujung kayu bakar, terdengar
              suara  panggilan  di  teras  depan.  Ternyata  memang  benar,
              Kang Imam bertandang untuk mengantarkan uang kelapa.
                   “Mana  Bapakmu?  Ini  uang  kelapa  yang  saya  janjikan.
              Katanya untuk bayar uang ujian,” ucap Kang Imam.
                  Ternyata  bapak  bersikukuh  untuk  mengupayakan  uang
              iuran  ujian  untukku.  Padahal  kemarin  lusa  saat  telepon,  ibu
              menjanjikan  akan  mengirimkan  uang.  Tapi,  uang  yang
              dijanjikan  ibu  seharusnya  sudah  sampai.  Mungkin  karena

              sekarang hari Minggu, maka kantor pos juga libur.
                  Api  mulai  merayap  menghanguskan  separo  badan  kayu
              sengon.  Air  mendidih  kutuang  dalam  segelas  teh,  berharap
              masih  hangat  sekembalinya  bapak  dari  ladang.  Menjelang
              siang  aku  mulai  resah.  Rasa  khawatir  mulai  berkecamuk.
              Kulihat  teh  yang  mulai  dingin  dan  kursi  kecil  tempat  bapak
              biasa menikmati segelas teh panas di depan tungku perapian.
              Seolah dihantui perasaan akan firasatku tadi. Tatkala melihat
              bapak  yang  tak  seperti  biasanya.  Sambil  kuayunkan  sapu  di
              depan  pintu,  kucoba  menghibur  diri  dari  pikiran  yang  tidak
              tenang.  Dari  jauh  kulihat  beberapa  tetangga  berlarian,  dan
              yang  paling  jelas  adalah  Kang  Imam  sedang  membopong


                                 Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 85
   92   93   94   95   96   97   98   99   100   101   102