Page 92 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 92

Es Mega Mendung

                                Oleh: Fatima Zahro



             A
                     ku  membenci  suara  lelaki  itu.  Terik  matahari
                     menyuramkan  penglihatanku.  Siang  tak  ubahnya
                     malam,  selalu  datang  menyapaku.  Kepercayaan  ibu
             untuk menitipkanku ke rumah nenek, tak sedikit pun menjadi
             amanahnya. Malahan menjadi tempat pelampiasan birahi. Es
             mega  mendung  menjadi  alat  rayuan  bejadnya.  Dia  yang
             menenggelamkan masa depanku. Layaknya hewan buas yang
             menakutkan.  Dia  teman  karib  ayahku,  Andi.  Ya,  namanya
             Andi.
                 Semuanya  berawal  saat  aku  duduk  di  kelas  empat.
             Merajuk dalam jiwa, seolah ayah dan ibuku tiada. Kesibukan
             orang tua yang tak kunjung usai, menjadi nestapa berbekas
             duka. Duduk di gronjong tempat penjual es mega mendung,
             menjadi  awal  ceritaku  dibujuknya.  Dia  memberiku  es  mega
             mendung sepuasnya. Beragam cerita yang aku suka. Sedikit
             pun  tidak  ada  rasa  curiga.  Dia  layaknya  orang  tua  yang
             mengayomiku.
                 Pergi  ke  rumah  nenek  suatu  kebahagiaan  yang  tak
             terhingga.  Terik  matahari  menemani  perjalananku.  Kicauan
             burung  pipit  meriuhkan  pepohonan.  Ketika  melintasi
             pemakaman  umum  yang  tak  jauh  dari  rumahku,  tetiba
             jantung  berdetak  tak  beraturan.  Pandangannya  menusuk,
             melihat  pahaku  karena  rok  yang  kugunakan  tertiup  angin.
             Saat menoleh ke kanan dan kiri, tak satu pun kulihat orang


             80 | 80 Cerpenis MediaGuru
   87   88   89   90   91   92   93   94   95   96   97