Page 35 - bk metamorfosis
P. 35
pada perolehan pengetahuan konseptual dan prosedural, dan kurang memberikan
perhatian pada pengembangan kemampuan berpikir. Dalam pembelajaran dengan
menggunakan model resik, siswa dihadapkan dengan banyak masalah yang harus
dipecahkan, siswa dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang merangsang
berpikir siswa. Pertanyaan-pertanyaan seperti: mengapa, bagaimana dan
sebagainya akan merangsang siswa untuk berpikir lebih keras. Dengan demikian,
belajar dengan menggunakan model resik ini dapat mengembangkan kemampuan
berpikir siswa. Berpikir merupakan proses yang melibatkan operasi (aktivitas)
mental seperti induksi, deduksi, klasifikasi, dan penalaran. Berpikir merupakan
kemampuan untuk menganalisis, mengkritik, dan mencapai kesimpulan berdasar
pada inferensi atau pertimbangan yang seksama. Salah satu kemampuan
berpikir yang dapat ditumbuhkan melalui pembelajaran metematika dengan
menggunakan model resik adalah kemampuan berpikir kritis. Hal ini disebabkan
karena dalam pembelajaran dengan model ini, siswa selalu dihadapkan pada
pertanyaan-pertanyaan ”mengapa”, “bagaimana”, yang kontekstual, sehingga
dapat merangsang dan menuntut berpikir siswa secara cermat dan komprehensip.
Siswa tidak hanya diharapkan dapat menyelesaikan salah satu masalah, tetapi
juga memahami langkah-langkah pemecahan masalah dan mengetahui mengapa
memilih strategi pemecahan masalah tersebut.
Berpikir kritis merupakan suatu keterampilan berpikir yang bermanfaat
dalam banyak situasi kehidupan. Menurut Ennis, berpikir kritis merupakan
berpikir reflektif yang terfokus dan memutuskan apakah meyakini atau melakukan
sesuatu (1996:123). Dari definisi menurut Ennis ini dapat diungkapkan beberapa
hal penting. Pertama, berpikir kritis merupakan kegiatan reflektif. Sering
tujuannya tidak untuk menyelesaikan masalah tetapi lebih pada pemahaman
terbaik terhadap masalah. Kedua, berpikir kritis juga merupakan kegiatan yang
terfokus. Ini menunjukkan bahwa kita tidak hanya berpikir, tetapi dalam berpikir
tentang sesuatu, kita ingin memahami sepenuhnya. Ketiga, tujuan dari berpikir
kritis adalah untuk mempertimbangkan dan mengevaluasi informasi sedemikian
sehingga pada akhirnya memungkinkan kita untuk membuat keputusan. Keempat,
tidak serupa pemecahan masalah, konten dari berpikir kritis kita merupakan
suatu keyakinan atau suatu alasan bagi keinginan kita untuk menyelesaikan
sepenuhnya.
(e) Keterampilan Kooperatif
Keterampilan kooperatif merupakan suatu keterampilan yang sangat
dibutuhkan saat ini. Bagaimanapun keterampilan ini dibutuhkan setiap orang,
karena kenyataan menunjukkan bahwa kehidupan siswa setiap hari tidak dapat
dipisahkan dengan orang lain, di rumah ia hidup dan berinteraksi dengan sesama
anggota keluarga, di lingkungan ia hidup dan berinteraksi dengan tetangganya
atau teman-temannya, di sekolah ia hidup dan berinteraksi dengan guru dan
METAMORFOSIS 27
Pengembangan Sekolah Model di Bali

