Page 12 - Revisi 5 E-Modul Taksonomi Tumbuhan Berbasis CRT
P. 12
Selain itu, publikasi flora dan penyusunan dasar-dasar monografi mulai
berkembang.
3. Fase biosistematik
Fase ini disebut sebagai fase eksperimental, ditandai oleh pengembangan
pengetahuan tumbuhan yang tidak hanya mencakup distribusi geografis, tetapi
juga aspek yang lebih luas, seperti jumlah dan morfologi kromosom. Kegiatan
utama pada fase ini meliputi analisis sistem perkawinan, pola variasi, serta
kajian taksonomi berbasis kimia (kemotaksonomi), taksonomi kuantitatif
(numerical taxonomy), sitologi, anatomi, embriologi, dan palinologi.
4. Fase ensiklopedik
Fase ensiklopedik merupakan tahap koordinasi dan integrasi dari ketiga fase
sebelumnya. Seluruh data dan ciri taksonomi dianalisis serta disintesis untuk
menyusun satu atau lebih sistem klasifikasi yang mencerminkan hubungan
kekerabatan tumbuhan secara filogenetis.
Perkembangan ilmu taksonomi tumbuhan tidak terlepas dari perubahan
pendekatan dan kemajuan ilmu pengetahuan yang terjadi dari waktu ke waktu.
Berbagai sistem klasifikasi telah dikembangkan oleh para ahli untuk
mencerminkan hubungan kekerabatan tumbuhan secara lebih akurat,
sebagaimana terlihat dalam perkembangan sistem klasifikasi berikut.
Tahun 1966, ahli botani asal Amerika Serikat, Arthur Cronquist,
mengembangkan sistem klasifikasi tumbuhan yang lebih modern dengan
menggunakan karakteristik morfologi dan anatomi yang lebih rinci. Sistem
ini mencakup dua belas kelas yang dibagi lagi menjadi subkelas dan ordo.
Namun, sistem ini juga memiliki kelemahan, seperti kesulitan dalam
mengklasifikasikan tumbuhan yang berkaitan secara filogenetik.
Tahun 1998, taksonomi tumbuhan berubah secara signifikan ketika para
ilmuwan mulai menggunakan analisis DNA untuk mempelajari hubungan
filogenetik antara tumbuhan. Analisis genetik memungkinkan para ilmuwan
untuk mengkategorikan tumbuhan berdasarkan kesamaan genetik dan
evolusi, daripada hanya berdasarkan karakteristik morfologi. Hal ini
memungkinkan pengembangan taksonomi yang lebih akurat dan lebih
terperinci.
Tahun 2009, ahli botani asal Selandia Baru, David G. Frodin,
mengembangkan sistem taksonomi tumbuhan yang terbaru dan lebih
terperinci. Sistem ini mencakup penggunaan analisis genetik dan informasi
filogenetik untuk mengkategorikan tumbuhan ke dalam kelompok yang
lebih spesifik. Sistem ini mencakup tiga tingkat: kingdom, division, dan
class, serta masing-masing tingkat memiliki kelompok-kelompok yang lebih
terperinci.
Pada saat ini, taksonomi tumbuhan terus berkembang dan mengalami
perubahan seiring dengan perkembangan teknologi dan pengetahuan baru
tentang genetika dan evolusi.
3 E-modul Taksonomi Tumbuhan

