Page 25 - Revisi 5 E-Modul Taksonomi Tumbuhan Berbasis CRT
P. 25
BAB IV. TATANAMA TUMBUHAN:
ILMIAH DAN LOKAL
4.1 TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa diharapkan dapat:
1.Menjelaskan definisi dan tujuan tatanama tumbuhan;
2.Mengetahui sejarah tatanama tumbuhan;
3.Menjelaskan sistem penamaan tumbuhan;
4.Menjelaskan prinsip dan peraturan tatanama tumbuhan;
5.Menjelaskan sistem tatanama binomial;
6.Menerapkan aturan International Code of Botanical Nomenclature (ICBN)
dalam penulisan nama ilmiah tumbuhan;
7.Membandingkan nama ilmiah dan nama lokal tumbuhan.
4.2 URAIAN MATERI
4.2.1 Definisi dan Tujuan Tatanama Tumbuhan
Pemberian nama pada tumbuhan dikenal sebagai nomenklatur atau
tatanama. Tatanama tumbuhan merupakan cabang ilmu taksonomi yang
mengatur tentang pemberian nama ilmiah bagi tumbuhan agar setiap species
dapat dikenali secara universal (Judd et al., 2016). Cara pemberian nama
tersebut didasarkan pada asas-asas yang diatur dalam peraturan-peraturan
yang disusun dan disahkan oleh Kongres Botani Sedunia. Peraturan tatanama
secara formal dimuat pada Kode Internasional Tatanama Tumbuhan
(International Code of Botanical Nomenclature).
Sistem tatanama ini bertujuan untuk menetapkan satu nama yang baku
bagi setiap takson (Rideng, 1989). Kode tatanama disusun untuk menyediakan
sistem penamaan yang baku dan konsisten bagi satuan-satuan taksonomi,
sekaligus menghindari penggunaan nama-nama yang dapat menimbulkan
kekeliruan, keraguan, atau kebingungan dalam ilmu pengetahuan (Rifai, 1973).
Selain itu, sistem tatanama bertujuan mencegah munculnya nama-nama yang
tidak diperlukan. Pemberian nama pada setiap satuan taksonomi tumbuhan
tidak dimaksudkan untuk menggambarkan ciri-ciri atau sejarahnya, melainkan
sebagai sarana acuan yang jelas serta untuk menunjukkan tingkat kedudukan
taksonominya.
Tatanama tumbuhan memiliki peran penting dalam menunjang komunikasi
ilmiah di bidang botani. Penerapan aturan dan prinsip tatanama yang baku
memungkinkan para ilmuwan menggunakan nama tumbuhan secara seragam
dan tepat. Hal ini dapat memudahkan pertukaran informasi, pengembangan
ilmu pengetahuan, serta pemahaman hubungan kekerabatan tumbuhan dalam
sistem klasifikasi.
16 E-modul Taksonomi Tumbuhan

