Page 26 - Revisi 5 E-Modul Taksonomi Tumbuhan Berbasis CRT
P. 26
4.2.2 Sejarah Tatanama Tumbuhan
Pada awalnya, nama-nama ilmiah tumbuhan merupakan sebuah pertelaan
sehingga sering disebut nama pertelaan, yaitu terdiri atas tiga atau lebih kata
(polinomial). Contohnya adalah Sambucus caule arboreo ramoso floribus
payungtis, yang berarti tumbuhan Sambucus dengan batang berkayu,
bercabang, dan bunga berbentuk payung. Nama seperti ini cukup panjang dan
menyulitkan dalam komunikasi ilmiah.
Seiring perkembangan ilmu botani, para ahli berupaya menyederhanakan
sistem penamaan tumbuhan. Sejak tahun 1753, sistem polinomial digantikan
oleh sistem binomial setelah diterbitkannya karya Systema Plantarum oleh
Carolus Linnaeus. Sistem binomial berlaku secara internasional dan
menggunakan dua kata untuk nama jenis, yaitu kata pertama sebagai nama
marga (genus) dan kata kedua sebagai penunjuk jenis (epithet species).
Contohnya Hibiscus tiliaceus
4.2.3 Sistem Penamaan Tumbuhan
Terdapat dua sistem penamaan tumbuhan dalam taksonomi, antara lain:
1. Nama daerah/nama lokal/nama umum
Pada awalnya nama suatu tumbuhan menggunakan bahasa induk orang
yang memberi nama, sehingga satu jenis tumbuhan dapat mempunyai nama
yang berbeda-beda sesuai dengan bahasa orang yang memberikannya.
Misalnya, orang Indonesia menyebut pisang, orang Inggris menyebut banana,
orang Jawa Timur menyebut gedang, orang Sunda menyebut cauk. Nama
daerah ini dasar pemberian nama berbeda-beda dan mempunyai sifat khusus,
bersifat tidak universal artinya tanpa metode penamaan dan penggunaannya
sangat terbatas. Beragamnya sebutan atau bahasa untuk satu jenis tumbuhan
dalam taksonomi dikategorikan nama daerah/nama lokal/nama umum/
common name. Penggunaan nama umum berpotensi menimbulkan
kebingungan yang berkelanjutan. Oleh sebab itu, dalam dua abad terakhir
penggunaan nama ilmiah dalam botani telah menjadi kebiasaan yang berlaku
secara luas di seluruh dunia.
2. Nama ilmiah
Berkembangnya ilmu taksonomi tumbuhan mendorong perlunya sistem
penamaan yang baku dan universal, sehingga muncul penggunaan nama ilmiah
(scientific name). Sistem pemberian nama ilmiah bersifat netral dan dapat
diterima oleh semua pihak karena tidak terikat pada bahasa daerah maupun
nasional tertentu. Setiap jenis organisme hanya memiliki satu nama ilmiah
yang berlaku secara internasional, sehingga menghindari kerancuan akibat
perbedaan nama lokal di berbagai wilayah. Bahasa yang digunakan dalam
penamaan ilmiah adalah bahasa Latin atau bahasa lain yang dilatinkan, karena
bersifat stabil dan tidak mengalami perubahan makna seiring waktu. Penulisan
nama ilmiah mengikuti kaidah tatanama binomial.
17 E-modul Taksonomi Tumbuhan

