Page 31 - Revisi 5 E-Modul Taksonomi Tumbuhan Berbasis CRT
P. 31
5.2.1 Struktur Tubuh Bryophyta
Struktur tubuh Bryophyta terdiri dari sporangium (kotak spora), seta, daun,
batang, dan rhizoid. Umumnya, Bryophyta memiliki tubuh yang berstruktur
rendah dengan tinggi hanya beberapa milimeter dan berdiri tegak di permukaan
tanah. Tubuh yang dimiliki Bryophyta merupakan peralihan dari talus ke
kormus. Semua Bryophyta memiliki warna hijau. Bryophyta merupakan
tumbuhan tingkat rendah sehingga tidak memiliki akar, batang, dan daun sejati.
Selain itu, Bryophyta juga tidak memiliki bunga, biji, xylem, dan floem.
Sporogonium Sporangium
Seta
Daun
Batang
Rhizoid
Gambar 5.2 Struktur Tubuh Bryophyta
(Sumber :https://l1nq.com/H9Atv)
5.2.2 Reproduksi Bryophyta
Bryophyta bereproduksi melalui pergiliran keturunan (metagenesis) yang
melibatkan dua fase, yaitu fase seksual dan aseksual. Metagenesis ditandai
oleh pergantian antara generasi sporofit sebagai fase vegetatif penghasil spora
dan generasi gametofit sebagai fase generatif penghasil gamet.
1. Reproduksi vegetatif
Perkembangbiakan vegetatif pada Bryophyta dapat berlangsung melalui
berbagai cara, antara lain: a) pembentukan tunas pada pangkal batang yang
kemudian terlepas dan tumbuh menjadi individu baru, b) pembentukan stolon,
serta c) percabangan batang lumut yang mati lalu cabangnya berkembang
menjadi individu baru. Selain itu, individu baru juga dapat berasal dari
protonema primer, protonema yang terputus-putus menjadi beberapa bagian,
serta pembentukan kuncup.
2. Reproduksi generatif
Bryophyta mengalami pergiliran keturunan dalam siklus hidupnya, yaitu
antara gametofit yang bersifat haploid dan sporofit yang bersifat diploid.
Bryophyta yang sering kita jumpai merupakan bagian perkembanganpada tahap
gametofit (tumbuhan penghasil gamet). Sel-sel kelamin jantan (sel sperma)
dihasilkan dari anteridium dan sel-sel kelamin betina (sel telur atau ovum)
terletak di dalam arkegonium. Anteridium yang telah matang akan melepaskan
sel-sel sperma yang kemudian bergerak menuju arkegonium. Pergerakan
sperma dengan cara bergerak/berenang sehingga proses pembuahan hanya
dapat terjadi pada kondisi lingkungan yang basah.
22 E-modul Taksonomi Tumbuhan

