Page 32 - Revisi 5 E-Modul Taksonomi Tumbuhan Berbasis CRT
P. 32
Ovum yang telah dibuahi membentuk zigot yang akan berkembang menjadi
sporofit. Sporofit bersifat diploid dan memiliki umur relatif singkat, yaitu
sekitar 3–6 bulan hingga mencapai fase matang. Pada ujung sporofit terbentuk
kapsul yang disebut sporogonium. Di dalam sporogonium dihasilkan spora
haploid melalui proses meiosis. Ketika sporogonium telah masak, spora
dilepaskan dan selanjutnya berkecambah membentuk struktur benang-benang
yang disebut protonema. Protonema ini akan tumbuh menyebar dan pada tahap
perkembangan tertentu membentuk gametofit baru.
Tumbuhan Lumut
Spora Protonema
(Gametofit)
Anteredium Arkegonium
Sporangium
Sperma Ovum
Sporongonium Sporofit Zigot
Gambar 5.3 Siklus Pergiliran Keturunan Bryophyta
Bryophyta sangat bergantung pada ketersediaan air dalam proses
pertumbuhan dan reproduksinya. Pertumbuhan Bryophyta dipengaruhi oleh
kondisi lingkungan yang mampu menyediakan air sesuai kebutuhannya. Dalam
kondisi tidak menguntungkan, seperti pada musim panas, Bryophyta dapat
memasuki fase dormansi sebagai strategi bertahan hidup. Bryophyta umumnya
berkembang melimpah di daerah beriklim lembap, dan keanekaragamannya
berkaitan erat dengan variasi habitat tempat tumbuhnya. Selain itu, Bryophyta
memiliki peranan penting dalam menjaga kelembapan tanah, mendukung daur
ulang unsur hara, menunjang keberlangsungan hidup tanaman lain, serta
menyediakan tempat hidup bagi berbagai organisme (Hallingback & Hodgetts,
2000).
23 E-modul Taksonomi Tumbuhan

