Page 23 - BUKU PERDEBATAN PASAL 33 DALAM SIDANG AMANDEMEN UUD 1945
P. 23

Susanto Polamolo
            Elnino M. Husein Mohi
            PERDEBATAN PASAL 33
            DALAM SIDANG AMANDEMEN UUD 1945


            Sekian lama absen dari kajian, istilah ekonomi kerakyatan
            kini dibawa kembali ke arena diskursus oleh Fadli Zon lewat
            disertasinya, yang kemudian dibukukan pada tahun 2016 lalu.
                  Berbeda dengan penggunaan istilah ekonomi kerakyatan
            yang digunakan Sarbini Sumawinata, Fadli datang dengan
            merekonstruksi kembali istilah itu (secara ontologis, epistimologis
            dan  aksiologi)  berdasarkan  pemikiran  Bung  Hatta:  “ekonomi
            rakyat”—yang kemudian diinterpretasi sebagai “ekonomi
            kerakyatan”.
                  Usaha Fadli Zon kurang lebih sama dengan usaha  yang
            dilakukan Jimly Asshiddiqie ketika menulis disertasi pada tahun
            1990, sebagaimana telah diuraikan di awal pembahasan. Jika Fadli
            merekonstruksi pemikiran “ekonomi rakyat” Bung Hatta,  Jimly
            merekonstruksi gagasan “kedaulatan rakyat” Bung Hatta. Dua
            usaha keilmuan  yang berbeda generasi itu secara konseptual
            sama-sama bertujuan untuk melegitimasi satu konsep: konstitusi
            ekonomi.
                  Dalam kerja-kerja yang serupa, tak jauh berbeda dengan
            usaha  yang dilakukan oleh  Tarli Nugroho  yang merekonstruksi
            polemik gagasan ekonomi Pancasila dan menginterpretasi ulang
            setelah sebelumnya gagasan tersebut direkonstruksi secara
            historis-struktural oleh Dawam Rahardjo sejak gagasan ekonomi
            Pancasila pertama kali ditulis Emil Salim—yang kemudian
            gagasan tersebut dikembangkan secara keilmuan oleh para
            ekonom cemerlang seperti Mubyarto, Hidayat Nataatmadja, Sri-
            Edi Swasono, dan tentu saja Dawam Rahardjo sendiri.
                  Dengan demikian, sudah ada dua konsep yang mengerucut
            sampai di ini,  yang satu ekonomi kerakyatan,  yang satunya
            lagi ekonomi Pancasila. Menurut Fadli, ekonomi kerakyatan



                                       xxii
   18   19   20   21   22   23   24   25   26   27   28