Page 22 - BUKU PERDEBATAN PASAL 33 DALAM SIDANG AMANDEMEN UUD 1945
P. 22

CATATAN PENDAHULUAN





            yang diprakarsainya, istilah tersebut konsisten diajukan sebagai
            kritik dan ia kemudian menyeriusinya sebagai konsep keilmuan
            ekonomi. Sementara Emil, ketika di tahun 1979 ia kembali dengan
            tulisannya tentang ekonomi Pancasila sebenanya tak lebih dari
            komentar, atau respon yang spontan saja.
                  Istilah ekonomi Pancasila di tahun 1979 memang sedang
            kembali marak diperbincangkan sejak tulisan Emil menulis
            menggunakan istilah tersebut pertama kali tahun 1965-1966.
            Setelah tulisan tahun 1979 itu Emil Salim tak muncul lagi dengan
            tema ekonomi Pancasila.  Tarli meringkus dengan kesimpulan
            bahwa dengan demikian di level gagasan pendekatan Emil Salim
            yang mencoba menempatkan ekonomi Pancasila sebagai orde
            ekonomi telah berhenti berproses.
                  Kembali ke awal persoalan istilah ekonomi kerakyatan.
            Jika merujuk pembedaan  yang diframing  Tarli Nugroho di atas,
            kelihatannya dapat digunakan memperjelas perbedaan konseptual
            antara istilah ekonomi kerakyatan  yang digunakan Sarbini
            Sumawinata sebagai kritik terhadap ekonomi Pancasila Mubyarto
            dengan konsep ekonomi Pancasila Mubyarto  yang mengadopsi
            gagasan “ekonomi rakyat” Bung Hatta. Posisi konseptual Sarbini itu
            bisa dikatakan sama seperti posisi konseptual Emil Salim. Sarbini
            tidak memosisikannya sebagai kritik teoritik, atau keilmuan baru,
            melainkan  istilah  yang  berhubungan  dengan  sistem  ekonomi—
            artikel penting yang ditulisnya pada tahun 1954, “Garis-Garis Besar
            Pembangunan Ekonomi Indonesia”, menunjukkan hal ini.
                  Istilah ekonomi kerakyatan secara spesifik, setelah tulisan
            Sarbini Sumawinata, kemudian absen dari pembahasan. Istilah itu
            sering digunakan tetapi dalam framing ekonomi Pancasila. Dan
            bila musim politik tiba istilah tersebut pasti jadi terma langganan.



                                       xxi
   17   18   19   20   21   22   23   24   25   26   27