Page 8 - BUKU PERDEBATAN PASAL 33 DALAM SIDANG AMANDEMEN UUD 1945
P. 8

CATATAN PENDAHULUAN
                                   SEKAPUR SIRIH




            yang terlebih dahulu melatarinya. Krisis  yang pertama adalah
            distrust antar elit politik yang diikuti dengan faksionalisasi politik.
            Krisis yang kedua adalah persoalan ekonomi. Dan selalu setiap
            pembahasan konstitusi yang bermula dari krisis tak pernah jernih.
                  Amandemen UUD 1945 sepanjang tahun 1999-2002
            lalu itu memang menyisakan sejumlah persoalan  yang belum
            clear. Seperti yang bisa kita teliti dalam tujuh belas buku Risalah
            Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 Negara Republik
            Indonesia, Sekretariat Jenderal MPR-RI, Tahun Sidang 1999-2002.
                  UUD 1945 punya mekanisme prosedural  yang  wajib
            dipenuhi bila ingin melakukan perubahan terhadapnya.  Yang
            memiliki kewenangan itu adalah MPR. Melalui Pasal 37, dengan
            terlebih dahulu melakukan perintah Pasal 3. Bila MPR ingin
            mengubah UUD 1945 harus melalui Pasal 37 dengan terlebih
            dahulu melakukan perintah Pasal 3, yaitu menetapkannya baru
            kemudian mengubahnya. Alur ini luput dilakukan oleh MPR. Salah
            satu  ahli  yang  sering  mengingatkan  soal  ini  adalah  mendiang
            Prof Harun Al Rasyid. Saat itu MPR memang langsung melakukan
            pembahasan perubahan.
                  Sebagaimana dapat dilihat dalam sejumlah Ketetapan
            (TAP) MPR yang inkonsisten. Proses perubahan UUD 1945 bermula
            dari Sidang Istimewa (SI) MPR yang berlangsung 10 sampai 13
            November  1998  sejumlah  TAP  yang  berkonsekuensi  langsung
            menjadi amandemen (baca: perubahan berupa penambahan
            dan penghapusan) UUD 1945. Dua di antaranya: TAP MPR-RI No.
            XIII/PR/1998 tentang Pembatasan Masa Jabatan Presiden/Wakil
            Presiden RI; dan TAP MPR-RI No. II/MPR/2000 tentang perubahan
            kedua atas TAP MPR-RI No. II/MPR/1999 tentang Tatib.




                                        vii
   3   4   5   6   7   8   9   10   11   12   13