Page 122 - Transmisi Nilai-nilai Pertanahan di Kabupaten Magetan
P. 122
Pelaksana Transmisi Nilai-Nilai Pertanahan
berlangsung dinamis, agar sesuai dengan perkembangan
situasi serta kondisi sosial dan ekonomi desa.
Sertipikasi hak atas tanah diberi “karpet merah”, melalui
upaya penghentian transmisi nilai-nilai pertanahan masa
lalu. Hal ini dilakukan agar mampu memberi kesempatan
bagi munculnya kebiasaan baru di bidang pertanahan, yang
sesuai dengan ketentuan pertanahan masa kini. Tekanan ini
memaksa tokoh petani dan para petani, untuk meninggalkan
kebiasaan lama di bidang pertanahan, karena kebiasaan
baru di bidang pertanahan lebih sesuai dengan ketentuan
pertanahan masa kini.
Ketika petani meninggalkan kebiasaan lama di bidang
pertanahan, hal ini merupakan bentuk pemaknaan petani
atas nilai-nilai pertanahan masa lalu. Makna ini diperoleh
petani, saat terjadi transmisi nilai-nilai pertanahan dari
petugas kantor pertanahan. Hasilnya berupa kesadaran petani
tentang nilai-nilai pertanahan masa kini, yang kemudian
membawa konsekuensi berupa keharusan mengkritisi nilai-
nilai pertanahan masa lalu. Kritik petani terhadap nilai-
nilai pertanahan masa lalu, selanjutnya memaksa mereka BAB III
untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama di bidang
pertanahan. Proses yang dialami oleh petani ini secara
sosiologis disebut “interpretative process”.
Kesediaan para petani meninggalkan kebiasaan lama
perlu mendapat insentif berupa penghargaan atau apresiasi
yang memadai dari pemerintah desa dan kantor pertanahan.
Sikap ini mampu membentuk suasana kondusif desa, yang
mendorong para petani mensertipikatkan hak atas tanahnya.
Perlahan-lahan para petani mulai mampu meninggalkan
kebiasaan lama, yang lebih dekat dengan konsep general
boundaries, yaitu penetapan letak bidang tanah berdasarkan
102 Transmisi Nilai-Nilai Pertanahan 103

