Page 127 - Transmisi Nilai-nilai Pertanahan di Kabupaten Magetan
P. 127

Aristiono Nugroho dkk.
                        Sebaliknya,  transmisi sebagian  nilai-nilai  pertanahan
                    masa lalu tersebut justru memberi jalan bagi kehadiran nilai-
                    nilai pertanahan masa kini, terutama berupa pemeliharaan
                    ingatan  para  petani atas  bidang-bidang  tanah  yang ada di
                    desa,  dan  pengakuan kepemilikan  tanahnya.  Dengan kata
                    lain, transmisi sebagian nilai-nilai pertanahan masa lalu di
                    masa kini menjadi “teknologi” sosial, yang memberi alas bagi
                    kehadiran nilai-nilai pertanahan masa kini.
                        Sebagian nilai-nilai pertanahan masa lalu di masa kini
                    dapat  dimanfaatkan sebagai  teknologi  sosial,  karena  nilai-
                    nilai ini mampu mendamaikan ketika  terjadi  persaingan,
                    kontravensi, dan  pertentangan di  bidang  pertanahan.
                    Persaingan  di  bidang  pertanahan  muncul,  saat para pihak
                    bersaing  mendapatkan keuntungan  yang berbasis  tanah.
                    Sementara itu, pertentangan di bidang pertanahan muncul,
                    saat para pihak berupaya memenuhi tujuannya dengan cara
                    mengalahkan pihak lain. Ketika suatu proses sosial posisinya
                    berada di antara persaingan dan pertentangan, maka dapat
                    dikatakan bahwa hal itu merupakan kontravensi.

                  d.  Prospek Penghentian Transmisi
                        Penghentian transmisi nilai-nilai pertanahan masa lalu
                    memiliki prospek yang  baik,  ketika para petani  menyadari
                    keunggulan nilai-nilai  pertanahan masa kini. Prospek ini
                    diperkuat oleh munculnya kebiasaan pertanahan yang baru
                    di kalangan petani, yang didukung oleh kantor pertanahan.
                    Peluang masuknya kebiasaan baru di bidang pertanahan di
                    kalangan petani  semakin  tinggi,  karena pergumulan para
                    petani  dengan  pertanahan.  Hal ini  berlangsung  saat  para
                    petani  mengurus  sertipikat hak  atas  tanah,  baik  secara
                    massal (melalui PRONA), maupun  secara individual  (di
                    kantor pertanahan).

      108                                                                                                                                                    109
   122   123   124   125   126   127   128   129   130   131   132