Page 129 - Transmisi Nilai-nilai Pertanahan di Kabupaten Magetan
P. 129
Aristiono Nugroho dkk.
kepentingan individu petani dan kepentingan kelompok
petani. Ketika individu petani dan kelompok petani
berinteraksi, maka keduanya berkesempatan untuk saling
mengimitasi, menyugesti, mengidentifikasi, dan bersimpati.
Konstruksi sosial inilah, yang memberi optimisme bagi
terjadinya perubahan individu dan kelompok petani.
Perubahan tersebut akhirnya bermuara pada penerapan
keadilan, peningkatan kesejahteraan, dan terwujudnya
harmoni sosial.
Sekretaris Gapoktan “Cepoko Mulya” Desa Cepoko
(Wahyu Sukmono) menjelaskan, bahwa nilai-nilai
pertanahan masa lalu merupakan bentuk kearifan lokal
pada zamannya. Oleh sebab itu, meskipun saat ini berlaku
nilai-nilai pertanahan masa kini, tetapi semangat nilai-nilai
pertanahan masa lalu perlu dihargai. Sebagai contoh kearifan
lokal yang terkait dengan tanda batas, berupa penanaman
tanaman andong atau trembesi. Selain itu, pada masa lalu di
sudut-sudut bidang tanah, ditanam batu sungai yang agak
besar sebagai penanda bila tanda batas di permukaan tanah
hilang. Uniknya lagi, saat penanaman andong atau trembesi
dan penanaman batu sungai para tetangga batas hadir untuk
menyaksikan.
Kearifan lokal merupakan sebagian nilai-nilai pertanahan
masa lalu, yang masih relevan dengan nilai-nilai pertanahan
masa kini dan kondisi saat ini. Sebutan “kearifan lokal”
mengacu pada makna positif dan negatif yang dimilikinya,
tetapi dengan bobot potitif yang lebih besar. Bobot negatif
kearifan lokal terlihat, ketika nilai-nilai yang terkandung di
dalamnya tidak sesuai dengan tuntutan kekinian. Contoh,
menanam andong atau trembesi dan batu sungai di sudut-
sudut bidang tanah dapat hilang dan dihilangkan oleh pihak
110 111

