Page 132 - Transmisi Nilai-nilai Pertanahan di Kabupaten Magetan
P. 132
Pelaksana Transmisi Nilai-Nilai Pertanahan
menyugesti petani hingga mereka menerapkan nilai-nilai
pertanahan.
Sugesti petugas kantor pertanahan mempengaruhi para
petani, saat mereka mengagumi keramahan dan sikap yang
diperlihatkan. Kekaguman ini mendorong petani membuka
pikirannya, dan bersedia menerima pemikiran yang
disampaikan oleh petugas kantor pertanahan. Pemikiran
yang masuk dalam benak para petani, antara lain berupa
penghentian sebagian transmisi nilai-nilai pertanahan masa
lalu, dan internalisasi nilai-nilai pertanahan masa kini.
Wahyu Sukmono menambahkan, bahwa ada juga
nilai-nilai pertanahan masa lalu, yang berkaitan dengan
penggarapan tanah dan bagi hasil, yang masih berlaku di
Desa Cepoko, seperti: (1) maro, yaitu ketika pemilik tanah
bersedia membantu penyediaan pupuk, sedangkan hasil
panennya lalu dibagi dua antara pemilik tanah dengan
penggarap; (2) mertelu, yaitu ketika pemilik tanah mendapat
bagian hasil panen hanya sebesar 1/3 bagian, sedangkan
penggarap mendapat bagian hasil panen hingga sebesar 2/3
bagian. BAB III
Bagi hasil merupakan bagian dari nilai-nilai pertanahan
masa lalu yang masih berlaku, karena memiliki unsur sosial,
ketika pemilik dan penggarap tanah saling membantu. Fakta ini
menjadi dasar bagi petani dan tokoh petani mempertahankan
nilai-nilai pertanahan masa lalu, sebab masih relevan
dengan kebutuhan masa kini. Tokoh petani melakukan
transmisi nilai-nilai pertanahan masa lalu pada para petani
dengan memanfaatkan wibawa dan otoritas tradisional yang
dimilikinya. Sementara itu, para petani menerima nilai-nilai
pertanahan masa lalu dengan sukarela, karena bersentuhan
dengan kepentingannya.
112 Transmisi Nilai-Nilai Pertanahan 113

