Page 131 - Transmisi Nilai-nilai Pertanahan di Kabupaten Magetan
P. 131
Aristiono Nugroho dkk.
dan petani lain yang telah sukses menjadi salah satu
prasyarat dan merupakan sesuatu yang penting. Para petani
memperoleh nilai-nilai pertanahan masa kini dari petugas
kantor pertanahan, dan menerima nilai-nilai pertanian masa
kini dari para penyuluh pertanian, serta mendapatkan nilai-
nilai pertanahan dan pertanian masa kini dari petani lain
yang telah sukses.
Seluruh interaksi tersebut akan mencegah hadirnya
mindset “bakul sate” di kalangan para petani. Sebagaimana
diketahui mindet ini juga mewajibkan petani, untuk
menunggui dan menggarap tanahnya secara fisik, sehingga
mengabaikan peluang bagi petani mengerjakan kegiatan lain
yang juga dibutuhkannya. Padahal dalam konteks kekinian,
ada istilah pertanian koperatif dan pertanian korporatif,
yang tidak mengharuskan para petani mengerjakan tanah
dalam makna fisik yang sempit. Oleh karena itu, dengan
tetap merawat filosofi nilai-nilai pertanahan masa lalu yang
memiliki kearifan lokal; maka sudah seharusnya nilai-nilai
pertanahan masa kini diinternalisasi oleh para petani, agar
mereka dapat terus mempertahankan livelihood berbasis
tanah di masa kini.
Livelihood berbasis tanah membutuhkan kesungguhan
para petani, sebagai upaya untuk mencegah resiko dan
kerugian. Hal ini menuntut para petani, agar bersedia
berinteraksi dengan petugas kantor pertanahan, perangkat
desa, dan para penyuluh pertanian. Oleh karena itu,
dibutuhkan kepiawaian dari petugas kantor pertanahan,
perangkat desa, dan para penyuluh pertanian dalam
berinteraksi dan melakukan transmisi nilai. Sebagai contoh,
petugas kantor pertanahan yang piawai dalam melakukan
transmisi nilai-nilai pertanahan pada petani, dapat
112 113

