Page 191 - Transmisi Nilai-nilai Pertanahan di Kabupaten Magetan
P. 191

Aristiono Nugroho dkk.
                    bidang tanah di desa akan bersertipikat, sehingga pertanahan
                    di desa akan  semakin  tertib.  Dengan demikian  ketertiban
                    pertanahan di tingkat desa yang “dimotori” oleh para petani,
                    dapat dimaknai  sebagai adanya  manfaat  tindakan dan
                    perilaku seorang petani bagi petani lainnya atau bagi sesama
                    petani.
                        Tindakan  dan perilaku  seorang  petani  bagi petani
                    lainnya atau bagi sesama petani baru dapat dirasakan, bila
                    tindakan dan perilaku tersebut berhasil dikenali, dideteksi,
                    atau ditandai  oleh  petani  lainnya.  Sebagaimana diketahui,
                    tindakan dan perilaku seorang petani merupakan “adegan”
                    (the scene), yang dimainkannya saat berkomunikasi dengan
                    petani lain. Pada adegan yang dimainkannya, secara tersirat
                    petani  menjelaskan tentang tindakan  dan  perilaku  yang
                    dapat dijalankannya, makna yang dikonstruksi oleh tindakan
                    dan perilaku tersebut, dan arti penting tindakan dan perilaku
                    petani. Petani tersebut dan petani-petani  lainnya berperan
                    sebagai “pelaku” (the agent), yang mengambil bagian dalam
                    komunikasi sehingga dapat membangun kesadaran bersama
                    untuk melindungi hak atas tanah petani.
                  c.  Bermanfaat Bagi Masyarakat Desa

                        Tindakan  dan perilaku para petani  yang  bermanfaat
                    bagi orang  lain, yang  ketiga, adalah tindakan dan perilaku
                    para  petani  bermanfaat  bagi masyarakat  desa  secara
                    keseluruhan.  Hal  ini  dikarenakan  tiap orang atau  petani
                    hanya menempati atau menggarap tanah yang telah menjadi
                    miliknya, atau yang telah diijinkan oleh pemiliknya. Kondisi
                    ini menciptakan suasana rukun, yang oleh beberapa sosiolog
                    sering disebut “harmoni”. Kerukunan ini kemudian memberi
                    kesempatan pada masyarakat desa, untuk saling bekerjasama
                    satu sama lain dalam menggarap tanah dan meningkatkan

      172                                                                                                                                                    173
   186   187   188   189   190   191   192   193   194   195   196