Page 195 - Transmisi Nilai-nilai Pertanahan di Kabupaten Magetan
P. 195
Aristiono Nugroho dkk.
(Pemerintah) dengan pemberian sertipikat hak atas tanah,
maka hal itu sudah dekat dengan keadilan. Selanjutnya,
petani didorong untuk melaksanakan kewajibannya, seperti:
menggarap tanahnya dengan sungguh-sungguh agar mampu
meningkatkan produktivitas tanah.
Petani meningkatkan produktivitas tanah berdasarkan
pengetahuan yang telah diperolehnya dari berbagai pihak
terkait. Pengetahuan ini diperoleh petani ketika melakukan
interaksi dan komunikasi dengan sesama petani, perangkat
desa dan petugas kantor pertanahan. Komunikasi verbal dan
non verbal menjadi sarana bagi petani, untuk memperoleh
pengetahuan di bidang pertanahan, atau sering disebut
“nilai-nilai pertanahan”. Saat berkomunikasi non verbal,
petani memanfaatkannya untuk menguatkan, menekankan,
dan melengkapi komunikasi verbal yang telah dilakukannya.
Sekretaris Gapoktan “Cepoko Mulya” Desa Cepoko
(Wahyu Sukmono) juga mengungkapkan maksud keadilan
versi dirinya, yang berupa pemenuhan hak dan kewajiban.
Ia memberi contoh tentang keadilan dalam bagi hasil, yang
dilakukan para petani di desanya. Bagi hasil yang berlaku
di desa ini, antara lain: (1) maro, yaitu ketika pemilik tanah
membantu penyediaan pupuk, sedangkan hasil panennya
dibagi dua antara pemilik tanah dengan penggarap; (2)
mertelu, dengan ketentuan pemilik tanah mendapat bagian
hasil panen sebesar 1/3 bagian, sedangkan penggarap
mendapat bagian hasil panen sebesar 2/3 bagian. Meskipun
tidak lazim, tetapi adakalanya pemilik tanah membantu
menyediakan pupuk.
Keadilan versi Sekretaris Gapoktan “Cepoko Mulya” Desa
Cepoko memberi penekanan pada perlunya interaksi egaliter
dan komunikasi terbuka, agar informasi tentang hak dan
176 177

