Page 206 - MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
P. 206

BAGIAN  III   185
                                                            Pelaksanaan

            fiskal menuntut keberadaan prinsip-prinsip dasar yang tidak hanya
            bersifat teknis-operasional, tetapi juga normatif dan konstitusional.

                Prinsip-prinsip umum  perbendaharaan negara  secara eksplisit
            dirumuskan  dalam  Undang-Undang  Nomor  1  Tahun  2004  tentang
            Perbendaharaan Negara, khususnya pada Pasal 3, yang menyatakan
            bahwa APBN menjadi dasar bagi pemerintah pusat untuk melakukan
            penerimaan dan pengeluaran negara. Di dalam pasal tersebut juga
            ditegaskan asas penting bahwa setiap tindakan yang berakibat pada
            pengeluaran APBN  harus didasarkan pada anggaran yang tersedia
            dan cukup, serta bahwa semua pengeluaran, termasuk subsidi dan
            bantuan, harus dibiayai dari APBN. Norma ini bukan sekadar rumusan
            administratif, melainkan manifestasi dari prinsip budgetary discipline,
            yaitu bahwa setiap pembelanjaan negara harus tunduk pada otorisasi
            anggaran sebagai bentuk legitimasi demokratis dan konstitusional.

                Lebih lanjut,  prinsip  integralitas dan universalitas anggaran
            juga tercermin dalam ketentuan bahwa  seluruh penerimaan  dan
            pengeluaran negara  harus ditampung dan  disalurkan melalui satu
            sistem kas yang terpusat, yaitu Rekening Kas Umum Negara (RKUN).
            Hal ini ditegaskan dalam Pasal 1 angka 3 UU 1/2004, yang menyebut
            RKUN sebagai rekening tunggal di bank sentral yang digunakan untuk
            menampung seluruh  penerimaan  dan membayar seluruh  pengeluaran
            negara. Prinsip ini dikenal dalam literatur keuangan publik sebagai
            unity  of  treasury, yang  bertujuan mencegah fragmentasi fiskal,
            menjaga likuiditas nasional, serta memperkuat kendali otoritas fiskal
            terhadap arus kas negara.
                Ruang  lingkup  perbendaharaan  sebagai  subsistem  integral
            dari  pengelolaan keuangan  negara  dijabarkan secara sistematis
            dalam Pasal 2 UU 1/2004, yang mencakup antara lain: pelaksanaan
            pendapatan dan belanja negara, pengelolaan kas, piutang dan utang
            negara, investasi pemerintah, pengelolaan  barang milik  negara,
            sistem akuntansi  dan pelaporan keuangan, serta penyusunan
            pertanggungjawaban pelaksanaan APBN. Cakupan ini menunjukkan
            bahwa perbendaharaan bukan hanya menyangkut aktivitas keluar-
            masuknya  uang  negara,  tetapi  mencakup  seluruh  mekanisme
   201   202   203   204   205   206   207   208   209   210   211