Page 211 - MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
P. 211

190    MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
                   Ilustrasi Pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional

            pusat, namun dengan jangkauan pelaksanaan yang desentralistik dan
            responsif terhadap kebutuhan satuan kerja di daerah.

                Struktur  kelembagaan  ini  bukan  hanya  disusun  berdasarkan
            efisiensi   birokrasi,  tetapi   merepresentasikan    arsitektur
            pertanggungjawaban fiskal yang komprehensif. Setiap aktor memiliki
            domain otoritas yang dibatasi oleh norma dan prosedur, namun
            membentuk satu rantai kendali  vertikal yang memastikan bahwa
            setiap rupiah belanja negara berasal dari keputusan yang sah,
            ditindaklanjuti oleh perikatan legal, dan dieksekusi oleh otoritas yang
            bertanggung jawab penuh. Dengan kata lain, struktur ini merupakan
            penjabaran konkret dari prinsip chain of accountability, yang menjadi
            fondasi utama good public financial governance.
                Keterpaduan fungsi kelembagaan tersebut diperkuat melalui
            PMK Nomor 62 Tahun 2023 jo. PMK Nomor 107 Tahun 2024, yang
            menyatukan aspek perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan dalam
            satu kerangka regulasi terpadu. Dalam konteks pelaksanaan anggaran,
            PMK ini memuat penjabaran peran kelembagaan secara lebih rinci,
            termasuk prosedur penyesuaian  DIPA, penarikan  dana,  serta tata
            kelola perubahan anggaran. Penguatan koordinasi antara PA, KPA,
            PPK, PPSPM, dan bendahara menjadi bagian dari upaya streamlining
            birokrasi fiskal, sejalan dengan semangat reformasi anggaran berbasis
            kinerja dan spending review.

                Secara teoritis,  struktur  kelembagaan perbendaharaan negara
            dapat dikaitkan dengan pendekatan principal-agent theory, di mana
            negara sebagai prinsipal (pemilik dana publik) menunjuk agen-agen
            fiskal (PA,  KPA,  PPK, PPSPM,  Bendahara) untuk melaksanakan
            penggunaan sumber daya negara sesuai dengan mandat hukum. Teori
            ini menekankan pentingnya  monitoring, incentives, and sanctions
            untuk mencegah moral hazard dan  meningkatkan efektivitas
            pelayanan publik.  Dalam praktik perbendaharaan, monitoring
            dilakukan melalui  sistem pelaporan dan audit internal, insentif
            muncul dalam bentuk reward kinerja, dan sanksi diberlakukan dalam
            kerangka pertanggungjawaban hukum dan disiplin PNS.
   206   207   208   209   210   211   212   213   214   215   216