Page 216 - MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
P. 216

BAGIAN  III   195
                                                            Pelaksanaan

            maupun pihak lain seperti lembaga swasta dan internasional—yang
            memiliki hak tagih  sah  berdasarkan komitmen anggaran. Dalam
            kondisi tertentu di mana pembayaran LS tidak dapat dilaksanakan
            langsung kepada penerima hak, pembayaran dapat dilakukan melalui
            bendahara pengeluaran atau lembaga keuangan non-bank.
                Di  sisi  lain,  mekanisme  UP  dirancang  untuk  membiayai
            pengeluaran  operasional  rutin  yang  tidak  dapat  dibayarkan  secara
            LS, seperti pembelian barang kecil, perjalanan dinas, atau kebutuhan
            mendesak lainnya,  dan pengelolaannya melekat pada Bendahara
            Pengeluaran. UP dapat berbentuk tunai atau kartu kredit pemerintah,
            dengan batasan maksimal bulanan sebesar 1/12 dari pagu belanja yang
            diperbolehkan serta batasan nominal per transaksi sebesar Rp200
            juta, kecuali untuk pengeluaran tertentu yang dikecualikan. UP yang
            telah digunakan harus diajukan revolving minimal sekali per bulan
            setelah pemakaian  minimal 50%.  Apabila Satker tidak  melakukan
            penggantian UP dalam jangka waktu yang ditetapkan, KPPN memiliki
            wewenang melakukan pemotongan bertahap hingga 50% dari nilai UP.
            Di luar itu, dalam keadaan mendesak atau kekurangan UP, Tambahan
            Uang Persediaan (TUP) dapat diajukan oleh KPA ke KPPN, dan harus
            dipertanggungjawabkan dalam waktu paling lama satu bulan sejak
            SP2D  diterbitkan.  Ketentuan ini menunjukkan bahwa tata kelola
            pembayaran negara  telah dirancang  tidak  hanya  akuntabel  secara
            administratif, tetapi juga  responsif terhadap dinamika operasional
            belanja,  sekaligus  menjamin  adanya  financial  control  mechanism
            yang ketat di setiap simpul pengeluaran fiskal.

                Satker  sebagai pelaksana anggaran tidak bekerja  sendiri,
            melainkan berinteraksi secara  institusional  dengan  KPPN sebagai
            Kuasa BUN. KPPN berperan sebagai representasi teknis dari Bendahara
            Umum Negara yang bertugas mencairkan dana, memverifikasi SPM,
            dan menerbitkan SP2D. Hubungan ini bersifat vertikal dan fungsional
            dalam kerangka otorisasi fiskal. Kuasa BUN merupakan pejabat yang
            diberi wewenang untuk melaksanakan sebagian tugas BUN, termasuk
            mengelolakas,  menetapkanalokasidana,  dan  memverifikasi  keabsahan
            permintaan pencairan dana. Dalam regulasi UU 1/2004 Pasal 14, Kuasa
   211   212   213   214   215   216   217   218   219   220   221