Page 316 - MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
P. 316

BAGIAN  IV   295
                                                            Pengendalian

            Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan mengatur secara tegas
            bahwa penilaian ketepatan penyampaian SPM  menjadi  salah satu
            unsur yang dapat menaikkan atau menurunkan nilai IKPA. Dengan
            demikian,  setiap Satker  terdorong untuk lebih teliti  mengurus
            kelengkapan dokumen keuangan.
                Di  sisi lain, pengelolaan  uang persediaan (UP) dan tambahan
            uang  persediaan  (TUP)  juga  tidak  luput  dari  pengawasan
            penilaian.  Komponen  ini  menilai  bagaimana Satker mengatur  kas
            kecil operasional dengan tertib. Penggunaan UP/TUP yang  baik
            mencerminkan pengendalian intern yang kuat, termasuk ketepatan
            waktu pertanggungjawaban, kesesuaian  nominal yang digunakan,
            serta kepatuhan dalam menyetorkan sisa UP/TUP ke kas negara.
            Dengan penilaian ini, setiap Satker diingatkan bahwa pengelolaan kas
            kecil sama pentingnya dengan belanja berskala besar, sebab potensi
            kebocoran sering terjadi justru pada pos-pos yang sifatnya rutin.

                Capaian output menjadi komponen pamungkas yang menegaskan
            orientasi belanja negara tidak berhenti pada serapan belaka. Dalam
            praktiknya, setiap belanja harus diikuti dengan ukuran keberhasilan
            yang nyata, berupa keluaran program yang terukur.  Satker wajib
            melaporkan progres output melalui sistem yang telah disiapkan, dan
            DJPb  memverifikasi  data  tersebut sebagai bagian dari komponen
            penilaian. Penekanan pada output menjadikan IKPA  sebagai
            instrumen yang tidak hanya administratif, tetapi juga substantif:
            memastikan setiap program pemerintah benar-benar menghasilkan
            dampak yang terukur bagi masyarakat.
                Proses penilaian seluruh indikator tersebut diatur  secara
            elektronik dan terpusat melalui aplikasi yang dikembangkan DJPb.
            Hal ini sejalan dengan arah transformasi digital pengelolaan keuangan
            negara, di mana data penilaian  diambil langsung dari transaksi
            keuangan Satker yang tercatat dalam  sistem perbendaharaan.
            Mekanisme ini meminimalkan risiko manipulasi data manual,
            meningkatkan akurasi, dan  mempercepat  proses  evaluasi. Apabila
            ditemukan kendala teknis, regulasi juga membuka ruang penyesuaian
   311   312   313   314   315   316   317   318   319   320   321