Page 99 - MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
P. 99

78     MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK: PRINSIP, REGULASI, DAN IMPLEMENTASI
                   Ilustrasi Pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional

            transformasi  sistemik  menuju  perencanaan  pembangunan yang
            lebih  terpadu,  berbasis  hasil,  dan  mampu  menjawab  kompleksitas
            permasalahan publik secara adaptif dan terukur.

                Dalam rangka menjalankan dan menunjang program yang
            telah  ditetapkan,  pelaksanaannya  dilakukan  melalui  kegiatan,
            yaitu nomenklatur yang  menggambarkan aktivitas yang  dilakukan
            oleh unit  kerja pada kementerian/lembaga yang bersangkutan.
            Kegiatan secara ideal tercermin pada level eselon II di bawah eselon
            I kementerian/lembaga. Secara umum, terdapat dua jenis kegiatan.
            Pertama,  Kegiatan  Spesifik,  yaitu  kegiatan  yang  dilaksanakan  oleh
            satu unit kerja eselon II. Contohnya adalah Kegiatan Pengukuran dan
            Pemetaan Kadastral yang dilaksanakan oleh Direktorat Pengukuran
            dan  Pemetaan Kadastral, di  bawah  Direktorat Jenderal  Survei dan
            Pemetaan Pertanahan dan Ruang, Kementerian Agraria dan Tata
            Ruang/Badan Pertanahan Nasional.  Kedua, Kegiatan Lintas, yaitu
            kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh dua atau lebih unit kerja eselon
            II  dan/atau satuan kerja. Contohnya  adalah  Kegiatan  Pengukuran
            dan Pemetaan Kadastral di Daerah yang dilaksanakan oleh Kantor
            Wilayah  BPN  Provinsi dan/atau Kantor Pertanahan Kabupaten/
            Kota di daerah, yang berada di bawah Kementerian Agraria dan Tata
            Ruang/Badan Pertanahan Nasional.

            4.4.  Keluaran (KRO/RO), Lokasi, Komponen, dan Indikasi
                 Pendanaan
                Dalam arsitektur perencanaan tahunan kementerian  dan
            lembaga, penjabaran program dan kegiatan dalam bentuk yang
            rinci dan terstruktur menjadi elemen kunci untuk memastikan
            keterpaduan antara dokumen perencanaan dengan dokumen
            penganggaran negara. Rencana Kerja Kementerian/Lembaga (Renja
            K/L)  tidak  dapat  berfungsi  optimal  tanpa  memuat  secara  eksplisit
            dan terukur mengenai keluaran  (KRO/RO), lokasi  pelaksanaan,
            komponen kegiatan, serta indikasi pendanaan yang dibutuhkan.
            Empat unsur ini menjadi representasi teknokratik  dari keseriusan
            lembaga negara dalam menjabarkan mandat konstitusional ke dalam
   94   95   96   97   98   99   100   101   102   103   104