Page 121 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 121
Ahmad Nashih Luthfi
sebagaimana yang dicanangkan sejak presiden Eisenhower,
namun untuk suatu visi: kontrol atas dunia.
Mengenai containment politics ini, seorang tokoh underground
bernama Gay J. Pauker sangat berperan dalam mengimposisikan
gagasan-gagasannya ke dalam struktur kekuasaan negara, utama-
nya di Indonesia. Ia mengajukan suatu argumen teoritis tentang
konsekuensi politis atas program pembangunan pedesaan di
Indonesia. Tidak hanya itu, ia memberi justifikasi atas pembunu-
han massal pengikut dan mereka yang dituduh PKI, 32 suatu upa-
ya guna memuluskan gelombang perubahan di pedesaan Indone-
sia. Ia juga memberi saran-saran pragmatis terhadap pemerintah
yang baru terpilih atas pelaksanaan Revolusi Hijau. Padahal un-
tuk menjalankan program Revolusi Hijau ini Indonesia membia-
yainya dengan uang pinjaman/hutang.
Menurut Budiawan, Pauker telah melakukan “kekerasan
epistemologis” dalam membangun body of knowledge atas proses
modernisasi yang harus dilalui Indonesia. Saran atas jalur yang
ditempuh seakan-akan menjadi historical imperative yang tidak
dapat ditawar-tawar. 33 Sehingga Green Revolution was only the
admissible system, tidak ada alternatif lain kecuali Revolusi Hijau.
Jika dibaca dalam konteks sejarah kapitalisme, apa yang
dilakukan oleh Pauker sebagai representasi politik Perang
Dingin, adalah memberi arahan bagaimana previous accumulation
terjadi. Dijadikannya massa rakyat di pedesaan sebagai floating
mass, padahal sebelumnya ada upaya mengorganisirnya, memberi
jalan lempang bagi masuknya kapital ke desa-desa di Indonesia.
32 Kaitan antara pemikiran Malthusian dengan pemikiran eugenics yang
terkenal pada masa Perang Dingin melalui tokoh Garret Hardin, terabadikan
dalam bentuk politik “containment”, pembendungan bahkan penyingkiran
komunisme. Eric B Ross, op.cit., hal. 9. Bandingkan dengan Budiawan, “Seeing
the Communist Past through the Lens of a CIA Consultant: Guy J. Pauker on the
Indonesian Communist Party Before and After the '1965 Affair'”, Inter-Asia
Cultural Studies, Volume 7, Number 4, (2006), hal. 660-661.
33 Budiawan, Ibid., hal. 651 dan 660.
68

