Page 125 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 125

Ahmad Nashih Luthfi


               Ricardian melalui pengenalan irigasi modern dan teknologi baru
               pertanian. Pengalaman itu mampu menolak tuduhan bahwa tek-
               nologi modern dan sistem irigasi cenderung hanya menguntung-
               kan petani kaya sehingga mengakibatkan distribusi pendapatan
               yang tidak merata.
                   Bahkan kedua peneliti itu menyatakan keyakinannya di
               penghujung tulisan tersebut bahwa kemiskinan dan ketimpangan
               pendapatan bukanlah nasib yang tak dapat diubah bagi Asia
               Tenggara jika penanggulangannya ditempuh melalui teknologi,
               sehingga pertumbuhan penduduk yang memberi tekanan pada
               penguasaan tanah dapat ditanggulangi.
                   Jika terdapat kegagalan dan dampak sosial yang merugikan,
               menurut Yujiro Hayami, lebih disebabkan perbedaan dan keuni-
               kan kondisi ekologis dan bukan perbedaan struktur penguasaan
               tanahnya. Sebab menurutnya, kesuksesan Revolusi Hijau dilaku-
               kan dengan cara “exploitation of unused lands”. 43  Baginya, tidak lagi
               diperlukan jalan landreform, sebab Revolusi Hijau telah memberi
               jalan keluar bagi stagnasi pertanian di Asia Tenggara.

               E. Kritik atas Pelaksanaan Revolusi Hijau

                   Dalam proses alih teknologi di bidang pertanian, menjadi
               penting mensituasikannya dengan konteks sosial. Sebab tekno-
               logi tidaklah pernah netral secara sosial (socially neutral). Revolusi
               Hijau menyajikan gambaran bagaimana saling terkait hubungan
               antara negara, sains, dan kontrol sosial. Sebagaimana argumen
               Perkins, “Penanaman benih varietas unggul hanyalah dapat dipa-
               hami melalui tekanan politik yang dilakukan oleh pemilik keku-
               asaan terhadap lapis bawah”. 44


                   43  Yujiro Hayami, “Ecology, History, and Development: A Perspective from
               Rural Southeast Asia”, op.cit. hal. 1
                   44  Mengenai antar-relasi ini diulas mendalam oleh John H. Perkins, op.cit.
               terutama pada Bab 5 dan Bab 10. Dalam kasus Indonesia, bentuk kekerasan oleh
               aparat keamanan dalam pelaksanaan Revolusi Hijau dan penolakan terhadap
               benih unggul dapat disimak dalam laporan sebuah media, “4 penduduk desa
               Montang Betok, Lombok Timur, direndam di halaman Kodim setempat. Mereka
               dituduh melakukan subversi karena berani menanam padi lokal di sawahnya”,
               Tempo, 19 Februari, 1983.
               72
   120   121   122   123   124   125   126   127   128   129   130