Page 127 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 127
Ahmad Nashih Luthfi
Dalam kasus di Luzon, Filipina, mekanisasi pertanian
difasilitasi melalui kredit Bank Sentral yang bekerja sama dengan
International Bank for Reconstruction and Development (IBRD)
dan kesediaan Bank Swasta menerima Sertifikat Transfer Tanah
sebagai jaminan atas pinjaman pembelian mesin. Tenaga kerja
buruh dan pengolahan menggunakan kerbau menurun tajam.
Penggunaan herbisida menyingkirkan peran perempuan yang
semula bekerja sebagai pemulia benih. 47 Jika pinjaman untuk
pembelian mesin itu tidak terbayar, maka tanah yang telah
diagunkan akan berpindah ke tangan bank yang selanjutnya
dapat diperjualbelikan ke pihak lain.
2. Marjinalisasi perempuan
Dalam analisis jender, strategi pembenihan Revolusi Hijau
yang maskulinis telah merusak dan memarjinalkan “self-repro-
ducing character and genetic diversity of seeds” yang memiliki dasar-
dasar feminis. IRRI dan berbagai korporasi perbenihan telah
mengusir perempuan dalam peran mereka sebagai “pembenih”,
suatu pengetahuan yang telah mereka miliki dan praktikkan
berabad-abad. Bahkan di Filipina, para petani yang telah banyak
dirugikan oleh Revolusi Hijau menyebut IRRI sebagai
“imperialisme perbenihan”, “menabur benih pemerintah, berarti
menabur rugi”. 48
Pengalaman Indonesia memberi gambaran serupa. Para
pemilik tanah tidak hanya memperoleh keuntungan dari produk-
si sawahnya, namun juga mereka mampu membeli mesin giling
(huller) dan menggantikan peran perempuan yang biasanya ber-
tugas menumbuk padi. Efektivitas dan efisiensi yang dihasilkan
oleh mesin giling tentu lebih tinggi daripada menumbuk secara
manual, sekitar 25% selisihnya. Seiring juga dengan sistem
pemanenan yang tidak lagi dilakukan secara konvensional, na-
mun menggunakan sistem borongan yang memakai tenaga kerja
47 Brian Fegan, op.cit., hal. 138.
48 Vandhana Shiva, Women Ensure Survival, hal. 1-2, sumber:
www.metafro.be/leisa/1989/5-4-7.pdf, diakses tanggal 23 Juni 2009.
74

