Page 130 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 130

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


               lagi. 55  Orang lapis bawah tidak hanya tercerabut dari tanahnya
               (sebagai alat produksi), namun juga ikatan sosialnya.
                   Bahkan untuk bertahan hidup, tunakisma dari Cirebon
               Timur pergi ke luar kota. Mereka tidak lantas beralih pada jenis
               pekerjaan lain, sesuatu yang juga sulit didapatkan, namun ba-
               nyak juga yang menjadi tenaga kerja panen dengan pergi ke dae-
               rah-daerah sekitar Jakarta, bahkan hingga ke Banten. Pilihan ini
               disertai ancaman pengusiran oleh tenaga kerja setempat dan
               persaingan dengan tenaga kerja lainnya, bahkan adanya pem-
               bakaran terhadap gubug-gubug tempat singgah mereka. 56


               4. Keresahan pedesaan
                   Dalam bukunya berjudul Perlawanan Kaum Tani, 57  James C.
               Scott memberi contoh perlawanan yang dilakukan oleh petani
               Malaysia  pada   tahun  1978-1980,   sebagai  dampak   dilak-
               sanakannya Revolusi Hijau. Bentuk pertama adalah perlawanan
               perempuan-perempuan penanam yang memboikot pemilik tanah
               sebab mendatangkan alat-alat panen kombinasi guna menggan-
               tikan kerja tangan mereka. Kedua adalah perlawanan dalam ben-
               tuk pencurian hasil panen oleh petani pekerja sebelum diangkut
               dari areal tanam maupun ketika berada di rumah pemiliknya. 58
                   Wilayah yang diceritakan Scott adalah desa yang dina-
               mainya Sedaka. Desa ini memiliki 74 rumah tangga, bertempat
               di Dataran Muda, Kedah, Malaysia. Pada tahun 1979 separoh
               keluarga miskin memiliki 3% dari lahan padi yang diusahakan
               dan menggarap termasuk tanah sewa 18%-nya. Ada sepuluh
               keluarga yang tidak mempunyai tanah. Di lain pihak, terdapat
               10 keluarga kaya yang memiliki lebih dari setengah lahan padi
               yang ada di desa dan masing-masing mengolah rata-rata 8 acre
               (3,7168 ha).




                   55  Ibid., hal. 28.
                   56  Ibid., hal. 89-90.
                   57  James C. Scott, Perlawanan Kaum Tani (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,
               1993).
                   58  Ibid., hal. 278-282.
                                                                         77
   125   126   127   128   129   130   131   132   133   134   135