Page 135 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 135
Ahmad Nashih Luthfi
Chemical Co.”, “DuPont” bank-bank yang terkait dengan
Standard Oil Company milik Rockefeller, yang beroperasi di Asia
Tenggara dengan bendera yang berbeda-beda, adalah penerima
keuntungan yang nyata. Bahkan Revolusi Hijau telah menolong
defisit perdagangan non-agrikultural Amerika Serikat. 64
Sebagai sebuah gagasan, Malthusianisme telah mendesakkan
keniscayaan Revolusi Hijau yang tidak memungkinkan alternatif
lain dipilih. Gagasan neo-populisme landreform dalam bentuk re-
distribusi tanah kepada satuan rumah tangga baru yang akan di-
jalankan di negara-negara Asia Tenggara pascakolonial segera
disapu bersih. Bentuk sekuritas faktor produksi rumah tangga,
yakni tanah, dinilai akan mendorong “peningkatan populasi”,
sesuatu yang sedari mula ditakutkan oleh pemeluk keyakinan
Malthusianisme.
Tahapan selanjutnya, ketika sumber-sumber agraria (tanah)
dirubrikasi untuk kepentingan pertambangan, perhutanan, perta-
nian, dan pembangunan perkotaan melalui pemahaman yang sa-
lah akan “hak menguasai negara”, alat produksi itu semakin jauh
dari massa rakyat. Perubahan sosial-ekonomi masyarakat pedesa-
an pada gilirannya menuju ke arah kapitalisme.
Saat ini kita saksikan adanya ketakutan negara Barat
terhadap fenomena “migrasi” penduduk dari negara-negara Ber-
kembang. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ketakutan itu
cermin dari masih hidupnya gagasan Malthusian, setidaknya di
negara-negara Eropa saat ini. Gagasan itu membuat proses inter-
aksi antara Utara-Selatan, Barat dan Timur, negara Maju dan
Berkembang, terjadi secara dominatif. Kritik dan gugatan terha-
dap Malthusianisme, Revolusi Hijau dan sejenis pembanguna-
nisme lainnya, yang membawa akibat pada arah transformasi
agraria kapitalis yang bias, harus terus-menerus digelorakan.
64 Ibid., hal. 16.
82

