Page 139 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 139

Ahmad Nashih Luthfi


               Bogor, dan Plantentuin pada tahun 1880 yang dikepalai oleh
               Melchiour Treub. 10
                   Nama Melchiour Treub menjadi terkenal dengan gagasan-
               nya tentang pendirian Departemen Pertanian. Ia sekaligus menja-
               di direktur pertamanya. Menyadari ketertinggalan riset yang
               terkait dengan pertanian rakyat, dan berkutatnya pada riset-riset
               cash crops, maka atas inisiatifnya, didirikanlah Departemen Perta-
               nian pada tanggal 1 Januari 1905. Departemen ini bertugas
               memperbaiki kondisi pertanian rakyat, usaha pemeliharaan ter-
               nak dan perikanan. 11  Treub mengusulkan ke pemerintah agar
               Departemen Pertanian meniru bentuknya yang ada di Amerika,
               dengan penekanan pada penelitian pertanian dan tanpa banyak
               tugas administratif sebagaimana yang ada di Inggris dan
               Jerman. 12
                   Secara khusus pemerintah kolonial Hindia Belanda tidak
               memberikan dukungan pada fakultas-fakultas negeri terhadap
               pelatihan ilmu sosial, dalam hal ini sosiologi. Pengajaran sosiologi
               didapatkan di Rechthogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) di Jakarta
               pada   tahun  1924.  Perkuliahan  diberikan  dalam   konteks
               mendukung secara umum kurikulum kajian hukum. Bahkan pada
               tahun 1934 pelajaran sosiologi dilarang dan tidak pernah
               diajarkan lagi. 13
                   Kajian sosiologi mendapat perhatian melalui kehadiran para
               sarjana baik mereka sebagai individu, administratur, dan
               misionaris yang tertarik pada kajian organisasi sosial. Di antara
               mereka adalah Wilken, Schrieke, van Leur dan Wertheim. Para
               sarjana yang menaruh minat pada kajian hukum adat dan

                   10  Ibid., hal. 30. Secara berturut-turut dibangun stasiun penelitian swasta
               dan proefstation (statsiun percobaan) sesuai dengan komoditas masing-masing: tiga
               stasiun penelitian tebu di Tegal, Semarang, dan Pasuruan; kopi dan kakao di
               Salatiga dan Malang; teh di Bogor; tembakau di Klaten dan Jember; dan karet di
               Medan. Kesemuanya terkait dengan lembaga penelitian di Bogor. Ibid., hal. 32-
               33.
                   11  Ibid., hal. 35.
                   12  Ibid., hal. 37.
                   13  M. A. Jaspan, Social Stratification and Social Mobility in Indonesia (Jakarta:
               Gunung Agung, 1960), hal. 7.
               86
   134   135   136   137   138   139   140   141   142   143   144