Page 134 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 134

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


                   1970    36.55    24.50    12.06   21.09   13.63     7.89
                   1980    48.04    30.03    18.01   25.07   18.37     9.62
                   1990    61.04    31.26    29.78   27.83   24.03    11.00
                   1995    68.34    31.41    36.93   29.00   27.60    11.77
                Malaysia
                   1961     8.40     6.11     2.29    5.10    2.90     1.81
                   1970    10.85     7.22     3.63    5.65    3.74     2.01
                   1980    13.76     7.98     5.79    5.39    5.30     2.16
                   1990    17.85     8.95     8.89    4.65    7.26     1.99
                   1995    20.02     9.26    10.76    4.31    8.31     1.89
                Asia
                   1961   1700.76  1348.30  352.45  1242.31  809.61  612.50
                   1970   2096.48  1615.83  480.65  1438.57  974.91  693.72
                   1980   2575.10  1895.04  680.06  1633.88  1228.64  817.13
                   1990   3097.28  2105.06  992.22  1822.97  1526.79  953.43
                   1995   3423.29  2244.88  1178.41  1903.98  1701.21  1006.10
                   Jika benar bahwa pembangunan pertanian melalui Revolusi
               Hijau   menghasilkan   perbaikan   menyeluruh   pada   mata
               pencahariaan (livelihood) dan tenaga kerja pedesaan, maka
               seharusnya tidak terjadi pergeseran-pergeseran angka di atas
               sebagai cermin dari pencerabutan tenaga kerja pertanian dan
               migrasi.
                   Kesimpulan akhir ini mengundang pertanyaan penting atas
               kebijakan tersebut, untuk siapa sebenarnya Revolusi Hijau itu?
               Kesahihan argumen Malthusian tentang jumlah penduduk yang
               mengalami kenaikan berlipat setiap 25 tahun tidak pernah dicek.
               Pemikiran itu telah mendasari proyek pembangunan sepanjang
               separoh abad 20 pasca Perang Dunia II, mendasari cara bagaima-
               na relasi antara negara-negara Barat dengan negara-negara Ber-
               kembang. Bersama dua produk gagasannya, yakni kebijakan
               “kontrol populasi” dan “Revolusi Hijau”, pemikiran Malthus
               telah menjadi mitos. 63
                   Pihak yang diuntungkan (beneficieries) atas Revolusi Hijau
               yang dicirikan dengan “capital intensive” di tingkatan pedesaan
               adalah para pemilik tanah dan petani kaya yang mampu meng-
               akses teknologi. Di level makro, berbagai pihak yang diuntung-
               kan adalah mereka yang sedari awal mendukung gagasan itu.
               Berbagai pabrik pupuk semisal “Phillips’s American Fertilizer and



                   63  Eric B Ross, “The Malthus Factor Poverty, Politics and Population in
               Capitalist Development”, op.cit. hal., 18.
                                                                         81
   129   130   131   132   133   134   135   136   137   138   139