Page 133 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 133
Ahmad Nashih Luthfi
pertanian, serta hubungan antara desa dan kota yang berjalan
linier menuju “the age of high mass consumption”.
Sebagaimana uraian di muka, peningkatan produksi tidak
berbanding lurus dengan peneguhan hak penguasaan atas modal
produksi petani, yakni tanah. Justru terjadi sebaliknya, ketim-
pangan, ketunakismaan, dan terkonsentrasinya tanah ke segelin-
tir orang di desa.
Tabel 8 berikut menunjukkan bahwa persentase tenaga kerja
pertanian terhadap total tenaga kerja semakin menurun. Di Indo-
nesia pada tahun 1990-an, tenaga kerja pertaniannya menjadi
sekitar 50%, turun dari sekitar 70% pada tahun 1960-an. Mun-
cul gejala deagrarianisasi sehingga mengakibatkan tenaga kerja
pertanian terlempar keluar, lantas memilih pergi ke kota atau
luar negeri sebagai buruh migran. Sementara yang menonjol dari
kasus Filipina adalah proporsi penduduk antara desa dan kota.
Antara tahun 1980-an hingga 1990-an, kenaikan jumlah pendu-
duk di pedesaan hanya sekitar 5-10% kontras dengan di perkota-
annya yang sekitar 60-70%. Di Malaysia justru penurunan tena-
ga kerja pertaniannya pada tahun 1990-an mencapai sekitar se-
pertujuh dari angka sebelumnya.
Tabel 8. Jumlah Penduduk Total dan yang Khusus
di Sektor Pertanian, 1961-1995 (dalam juta) 62
Populasi Total Tenaga
Negara /
tahun Total Desa Desa Populasi tenaga kerja
kerja pertanian
Indonesia
1961 97.97 83.45 14.52 69.09 38.17 28.23
1970 120.09 99.59 20.50 74.90 45.77 30.34
1980 150.34 116.96 33.38 80.61 60.18 34.81
1990 182.47 126.65 55.82 92.90 80.16 44.23
1995 197.62 127.27 70.36 93.84 91.06 47.14
Thailand
1961 27.47 24.00 3.47 21.62 13.99 11.66
1970 36.15 31.34 4.80 26.92 17.95 14.32
1980 46.02 38.17 7.84 29.61 24.34 17.26
1990 54.74 44.49 10.25 31.14 31.38 20.10
1995 58.73 47.01 11.72 31.10 34.31 20.70
Philippines
1961 27.91 19.37 8.53 17.55 10.44 6.58
62 Data disusun kembali dari tabel IRRI yang berdasarkan data FAO, op.cit.
80

