Page 128 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 128

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


               dari luar dan didominasi oleh pria. Pemanen luar menggeser pe-
               manen dalam.
                   Frans Husken dalam disertasinya yang mengambil lokasi di
               desa Gondosari, Tayu, Pati Jawa tengah, menuliskan hal ini. 49  Ia
               mengutip paparan beberapa perempuan yang ada di wilayah stu-
               dinya, Tayu, Jepara,
                   “Pukulan apa yang tidak terjadi kepada kami selama ber-
                   tahun-tahun belakangan ini. Mula-mula datang mesin selép
                   yang membikin mati usaha kami sebagai tuton (pedagang
                   beras kecil-kecilan). Kemudian pemilik sawah menyerahkan
                   tanduran kepada kelompok-kelompok tetap wanita dan pria
                   yang dianggap berpengalaman dan ahli, sehingga kami tidak
                   kebagian kerja…Semua yang dulunya ikut serta dalam men-
                   derep dan mengasak, sekarang hanya menganggur tinggal di
                   rumah. Bila dulu gampang mendapat kerja, sekarang kok
                   semakin susah...Wong cilik dipateni kabeh. 50

                   Secara umum, marginalisasi perempuan tidak hanya terjadi
               akibat pengenalan teknologi modern namun juga adanya alih
               fungsi lahan, pembatasan terhadap komoditas tertentu, kelem-
               bagaan, dan aplikasi program gender pada pertanian. 51  Proses
               marginalisasi buruh tani dan petani miskin terjadi bersamaan de-
               ngan terkonsentrasinya kepemilikan tanah di balik peningkatan
               produksi pertanian selama Revolusi Hijau.


               3. Migrasi sebagai bentuk nyata deagrarianisasi
                   Proses “deagrarianisasi” dan “marjinalisasi perempuan” telah
               banyak ditunjukkan dalam berbagai penelitian. Istilah seperti
               “housewife-ization” yang ditemukan dalam kajian di Malaysia
               Barat, dimana perempuan memiliki julukan “seri rumah tangga”

                   49  Ringkasannya dapat dibaca dalam Frans Husken, Cycles of Commercia-
               lization and Accumulation in A Central Javanese Village, dalam  Gillian Hart cs.,
               op.cit., hal. 303-331.
                   50  Frans Husken, Masyarakat Desa dalam Perubahan Zaman: Sejarah
               Diferensiasi Sosial di Jawa 1830-1980 (Jakarta: Grasindo, 1998), hal. 265.
                   51  Ken Suratiyah, “Gender dan Pertanian”, dalam Sih Handayani dan Yos
               Soetiyoso (Ed.), Merekonstruksi Realitas dengan Perspektif Gender (Yogyakarta:
               Serikat Bersama Perempuan Yogyakarta, 1997), hal. 101-112.
                                                                         75
   123   124   125   126   127   128   129   130   131   132   133