Page 144 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 144
Melacak Sejarah Pemikiran Agraria
untuk tenaga kerja di perkebunan gula saja. Sehingga diperkira-
kan sampai dengan tahun 1939, jumlah tenaga kerja perkebunan
gula sekitar 1,5 juta jiwa.
Hasil penyelidikan itu menunjukkan bahwa sejumlah kecil
mandor dan teknisi menerima gaji tertinggi. Dalam kasus pekerja
perkebunan yang menetap, 10% anak berusia di bawah 12 tahun,
62% berusia 12-16 dalam kondisi bekerja dan mendapat upah.
Demikian juga istri ikut sebagai tenaga kerja, jumlahnya sekitar
68-70% dari total.
Area yang dialokasikan per keluarga rata-rata lima meter,
termasuk ruang untuk dapur. Pemuka setempat menikmati hak
istimewa, sementara keluarga kuli terkadang tinggal di barak
dengan menempati satu ruangan. Tempat tinggal itu dibangun
dari anyaman bambu dan separuhnya berlantai tanah. Secara u-
mum, kondisi tempat tinggal para mandor dan teknisi sangat
mencolok perbedaannya dengan para kuli perkebunan dan pa-
brik, tidak hanya dari segi bangunan rumahnya, namun juga
perlengkapan di dalamnya.
Kuli pabrik menerima upah lebih besar ketimbang kuli
perkebunan, dan yang menetap menerima lebih besar upah
ketimbang yang tidak menetap. Seorang kuli perkebunan laki-
laki yang tidak menetap menerima upah 2/3 sen saat itu.
Perempuannya menerima lebih sedikit. Secara keseluruhan,
pekerja laki-laki yang menetap menerima upah 1,1 sen dan tidak
lebih dari 1,9 sen per jam. Sementara mandor dan teknisi bergaji
2,7.
Semua pekerja pabrik laki-laki baik yang menetap atau tidak
bekerja selama 10-11,5 jam perhari, dan perempuannya 9,1-10,3
jam. Sedangkan yang bekerja di perkebunan rata-rata 8 jam
perhari.
Nilai konsumsi kuli perkebunan hampir semua dari upah
yang diperolehnya per hari, hanya mandor dan teknisi yang bisa
menabung. Persentase dari pengeluaran itu yang tertinggi adalah
untuk membayar hutang, melalui kredit, terutama untuk
kebutuhan mereka selama di perkebunan. Saat penelitian
91

