Page 147 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 147

Ahmad Nashih Luthfi


               mengkonsumsi 30-40 gram. Protein hewani nyaris tidak dijumpai
               dalam semua keluarga kelompok ini. Kelompok istimewa akan
               menikmati protein hewani, termasuk ketika ada selamatan, seba-
               nyak 10 gram per hari. Sepotong ikan sebagai lauk adalah sebuah
               kemewahan bagi kuli perkebunan.
                   W. F. Wertheim menyimpulkan bahwa gambaran keselu-
               ruhan yang disajikan Laporan Komisi Anggaran Kuli adalah
               sungguh menyusahkan hati. Upah yang diterima pekerja kuli
               sungguh rendah sehingga mereka nyaris menjadi “pengangguran
               terselubung”. 23  Ia menyatakan,

                   “Sebagaimana penggantian tanam paksa atau sanksi pidana dengan
                   kontrak bebas, belum terbukti merupakan karunia yang sesung-
                   guhnya bagi para pekerja perkebunan, maka penggantian kerja pak-
                   sa dengan pekerja upahan untuk pekerjaan umum tidak menunjuk-
                   kan keuntungan yang jelas bagi para pekerja yang terkait”. 24

                   Hasil penelitian itu tidak membawa implikasi kebijakan
               apapun meski kesimpulannya menjadi pembicaraan umum di
               kalangan Belanda. Menjelang akhir periode sebelum perang,
               gambaran paradoksal muncul, sistem perbudakan secara resmi
               memang telah dihapuskan, namun dalam kaitannya dengan
               pasokan tenaga kerja yang semakin banyak di perkebunan dan
               pelabuhan, muncul kemungkinan terjadinya kekerasan baru. Ter-
               lebih pada masa pendudukan Jepang. 25
                   Penelitian di atas diperlukan sebagai bagian dari proses pen-
               ciptaan pengetahuan tentang seperti apa kehidupan pekerja
               perkebunan dan petani yang darinya dapat dirumuskan standar
               anggaran. Dari situ dapat tercipta standar minimal “rust en orde”,
               sehingga tidak terjadi “agrarian unrest” atau keresahan agraria di
               wilayah perusahaan perkebunan. Penelitian tidak dimaksudkan
               untuk melakukan penataan ulang atas struktur agraria, walau




                    23  Bandingkan juga penegasannya kembali dalam W. F. Wertheim, (1999)
               op.cit., hal. 201.
                   24  Ibid., hal. 208.
                   25  Ibid., hal. 213.
               94
   142   143   144   145   146   147   148   149   150   151   152