Page 150 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 150

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


               dan muda. Namun Dingley menarasikannya sebagai pemberon-
               takan petani yang mengeluhkan wajib kerja dan “Pajak Tanah”
               yang sebagian telah disalahgunakan oleh para pegawai kecil dan
               sesepuh desa. Peristiwa “Perang Jawa”   tahun 1825-1830 di
               Yogyakarta yang dipimpin oleh Diponegoro dan Sentot Alibasjah
               Prawiradirdjo, pemberontakan petani di Cilegon 1888, pembe-
               rontakan di Aceh pada tahun 1893 dan 1906 dengan pemimpin-
               pemimpinnya seperti Toha Oemar, Tjoet Ali, dan Blang Pidi,
               memberi kesamaan narasi. Semua itu memiliki karakter pembe-
               rontakan yang muncul karena kondisi para petani yang sangat
               mengenaskan akibat eksploitasi dan ekstraksi atas sumber-
               sumber agraria yang mengalienasikan kehidupan petani setem-
               pat.
                   Pada Bab II, selain menggunakan data dari Statistical
               Abstracts of the Netherlands Indies, yang menarik adalah, Dingley
               mengutip brosur karya Wongso berjudul Kitab Tani. Brosur itu
               merupakan pamflet berbahasa Melayu untuk para petani.
               Dengan itulah Dingley menyajikan struktur penguasaan tanah
               dan berapa rata-rata tanah yang dikuasai oleh petani, yakni ku-
               rang dari satu bau. Analisis kelas yang dicirikan atas penguasaan
               tanah menjadi analisis yang cukup kuat dalam naskah tersebut.
                   Uraian tentang organisasi tani ada dalam Bab 3. Ia secara
               khusus membahas tentang aktifnya sarekat-sarekat tani yang ber-
               ada di bawah organisasi Partai Komunis Indonesia (suatu partai
               yang pertama kali menggunakan kata “Indonesia” sebagai nama
               organisasinya), yang dalam praktik di berbagai kota memiliki
               karakter yang berbeda-beda. Ia misalnya, menunjukkan sarekat
               yang ada di Solo di bawah kepemimpinan Haji Misbach. Orga-
               nisasi-organisasi tani yang hendak didirikan oleh pemerintah
               kolonial ia pandang dengan skeptis. Menurutnya,
                   “Kita lihat bahwa pemerintah Indonesia pada saat ini tengah
                   memberikan tawaran yang serius untuk mendukung para petani.
                   Oleh karenanya, adalah salah satu tugas terpenting dari setiap
                   komunis militan untuk memasuki berbagai organisasi petani,
                   dengan maksud untuk membongkar permainan dari para pemeras,



                                                                        97
   145   146   147   148   149   150   151   152   153   154   155