Page 153 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 153
Ahmad Nashih Luthfi
Jika Kautsky dengan pemahaman itu berujung pada saran
untuk menetralisir kaum tani sebab tidak progresifnya mereka
39
akibat proses kapitalisasi di pedesaan , maka begitupun juga
pendapat Soekarno. Menurutnya, secara umum yang disebut
Marhaen adalah bukan hanya petani namun juga kaum buruh,
dan kaum melarat Indonesia yang lain, “misalnya kaum dagang
ketjil, kaum ngarit, kaum tukang kaleng, kaum grobag, kaum
40
nelajan, dan kaum lain-lain” , akan tetapi yang menjadi bagian
besar sekali dalam perjuangan kaum Marhaen adalah kaum
proletar (kaum buruh). Sebab, lanjutnya:
“Kaum proletarlah yang kini lebih hidup didalam ideologi-modern,
kaum proletarlah jang sebagai klasse lebih langsung terkena [sic.]
oleh kapitalisme, kaum proletarlah jang lebih ‘mengerti’ akan
segala-galanja kemoederenan sosio-nasionalisme dan sosio-
demokrasi”. 41
Selain itu, menurut Soekarno kaum tani akibat dari
feodalisme masih dihinggapi alam fikiran mistis, kolot, kuno dan
meyakini datangnya “Ratu Adil” yang kelak akan menolong na-
sib mereka.
Cara pandang Soekarno terhadap petani dengan proletar
memang sangat berlainan. Meski dia, sebagaimana disebut di
muka, adalah perkecualian dari para tokoh pergerakan yang
menaruh perhatian pada isu dan kondisi agraria, namun
pemahamannya tehadap struktur sosial pedesaan tidaklah meng-
gambarkan adanya diferensiasi internal. Ini sangat berbeda de-
ngan pandangannya tentang kaum proletar. Dalam tulisan “Ka-
pitalisme Bangsa Sendiri”, ia menyadari adanya diferensiasi in-
ternal itu: tuan-tuan bangsa sendiri yang ikut “menyengsarakan
buruh”. Cara produksi kapitalisme memisahkan kaum buruh dari
alat produksinya, yang mengakibatkan “meerwaarde” (surplus
value) jatuh ke tangan majikan, juga mengakibatkan kaum buruh
39 Ibid.
40 Soekarno, “Marhaen dan Proletar”, dalam Dibawah Bendera Revolusi,
(Panitya Penerbit Dibawah Bendera Revolusi, 1964), hal. 254.
41 Ibid.
100

