Page 151 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 151
Ahmad Nashih Luthfi
yang mengalienasi massa petani dari kaum proletariat, dengan
berpura-pura mendukung mereka.” 30
Dalam historiografi Indonesia, karya Iwa Kusuma Sumantri
tersebut tidak dicatat sebagai salah satu tonggak dari apa yang
disebut dengan “historiografi Indonesiasentris”. Jika jenis tulisan
sejarah ini bercirikan “orang Indonesia sebagai aktor sejarah”,
dan “bukan hanya kehidupan keraton-sentris, namun petani juga
dapat ditulis dalam sejarah”, maka karya Iwa Kusuma Sumantri
memenuhi syarat-syarat itu. 31 Apakah historiografi Indonesia
telah sejak awal bersikap diskriminatif terhadap teks-teks dengan
tema gerakan agraria, ataukah disebabkan ia diproduksi oleh
kelompok kiri Indonesia? Pada masa pergerakan pun, para
intelektual progresif tidak menaruh perhatian pada isu kemis-
kinan pedesaan dan kondisi agraria. 32 Dua perkecualian dapat
disebut di sini, yakni Iwa Kusuma Sumantri sebagaimana uraian
di atas dan Soekarno dalam berbagai tulisannya, terutama ten-
tang Marhaen dan Marhaenisme.
3. Wong cilik-nya Soekarno
Istilah wong cilik memuat berbagai kategori sosial. Ia bersifat
partikular sesuai dengan konteks lokal dan kapan istilah itu
digunakan. Istilah itu lebih merujuk pada pernyataan ideologis
daripada penjelasan sosiologis. 33 Perbedaan antara wong cilik dan
30 Lihat paragraf penutup Bab 5 dalam naskah tersebut.
31 Sartono Kartodirdjo dalam disertasinya mengutip buku ini untuk bab
satu-nya. Anehnya, ia tidak menghadirkannya kembali untuk buku-buku
utamanya tentang historiografi. Dari pelacakan daftar pustaka dan indeks, tidak
disebut nama maupun judul penelitian tersebut.
32 Meskipun dua partai politik telah lahir pada tahun 1920-an, namun ti-
dak ada organisasi berbasis kaum tani yang muncul. Tidak seperti di negara-nega-
ra lain, di Indonesia ironis sekali kaum intelektual dan tokoh pergerakannya tidak
mengangkat isu agraria sebagai isu politik mereka. Lihat, Jan Breman, “The
Village in Focus”, dalam Breman, P. Kloos dan A. Saith (Eds.), The Village in Asia
Revisited (J.C. Delhi: Oxford University Press, 1997), hal. 15-75.
33 John Sullivan, dikutip dari Arif Aris Mundayat, Ritual and Politics in New
Order Indonesia: A Study of Discourse and Counter-Discourse in Indonesia, Disertasi
pada School of Social and Life Science, Swinburne University of Technology,
2005, hal. 2.
98

