Page 155 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 155
Ahmad Nashih Luthfi
tika mengusulkan periodisasi Indonesiasentris tidak pula mem-
beri sinyal ke arah sana. 44 Padahal dalam beberapa tulisannya
yang terbit tahun 1950, ia bersimpati pada dua cara pandang
45
atas sejarah Indonesia “secara Komunistis” . Ia menunjuk dua
nama, Tan Malaka dan S. J. Rutgers.
Dalam tulisan itu Moh. Ali menyajikan periodisasi sejarah
berdasarkan “politik ekonomi”. 46 Ia menunjukkan periodisasi
Tan Malaka dalam buku Massa Actie-nya, sebagai historiografi
yang didasarkan atas “rakyat-jembel Indonesia dan bahwa sejarah
yang dilukiskan itu memang sejarah rakyat jembel”. 47 Tan
Malaka membuat 5 babakan zaman. Dua Zaman terakhir adalah
Zaman Belanda yang berisi dua periode, yakni imperialisme
Kuno dan Imperialisme Modern, dan Zaman Perebutan
Kekuasaan antara Kelas Jembel dan Kaum Imperialisme.
Sementara Rutgers dengan faham Komunisnya menyajikan
periodisasi sejarah Indonesia berdasarkan “produksi, yaitu cara
produksi, cara menghasilkan sesuatu”, dan bagaimana “perkem-
bangan sistem penggunaan modal dan cara menghasilkan ba-
rang”. 48 Moh Ali menyimpulkan, “Membaca Massa Actie maupun
44 Simak Laporan Seminar Sejarah (Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada,
1958), terutama hal. 54-55. Seminar Sejarah I tahun 1957 di UGM, Yogyakarta,
ini dihadiri oleh D.N. Aidit sebagai ketua Partai Komunis Indonesia yang disertai
Njoto. Sementara bertindak sebagai sekretaris panitia pelaksana adalah Drs.
Busono Wiwoho yang juga menjadi ketua Himpunan Sarjana Indonesia.
Pemberitaan kehadiran pimpinan PKI ini dimuat dalam Harian Rakjat, Kamis 19
Desember 1957.
45 Bukunya semula berjudul Sedjarah Nasional dan diterbitkan kembali men-
jadi Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia (Yogyakarta: LKiS, 2005). Dalam kesem-
patan lain ia menyebutnya Marxis (historiografi Marxis). Dua nama yang ditam-
bahkannya sebagai “sejarawan Marxis” adalah D.N. Aidit dan A. Guber. Meski
begitu, ia mengkritik keduanya sebagai “agak terlampau bebas menggunakan
fakta-fakta demi tujuan mereka”. Moh. Ali, “Beberapa Masalah tentang
Historiogarfi Indonesia”, dalam Soedjatmoko, dkk. (Ed.), Historiografi Indonesia,
Sebuah Pengantar (Jakarta: Gramedia, 1995), fn. 48, hal. 376.
46 Maksudnya adalah ekonomi politik.
47 Moh Ali, 2005, op.cit., hal. 176.
48 Ibid., hal. 177.
102

