Page 159 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 159

Ahmad Nashih Luthfi


               djo, Notonagoro, Soewahjo, Soenarjo, Sadjarwo, KH. Zainal
               Arifin, Boedi Harsono, dan lainnya, serta berbagai kelembagaan
               seperti Universitas Gadjah Mada, Departemen Agraria.
                      Secara berturut-turut, penyiapan penyusunan Undang-
               Undang Pembaharuan Agararia (UUPA) melahirkan beberapa
               kepanitian: “Panitia Agraria Yogya”, “Panitia Agraria Jakarta”,
               “Panitia Soewahjo”; dan dua rancangan: “Rancangan Soenarjo”,
               dan “Rancangan Sadjarwo”. Inti dari penyusunan dasar-dasar
               Hukum Agraria/Hukum Tanah baru itu adalah untuk menggan-
               tikan Hukum Agraria warisan pemerintah kolonial. 56
                   Melalui   Penetapan   Presiden  No.  16   Tahun   1948,
               dibentuklah Panitia Agraria yang dikenal sebagi “Panitia Agraria
               Yogya”. 57  Ketuanya adalah Sarimin Reksodihardjo. Tugas panitia
               itu lebih bersifat persiapan, menghimpun berbagai pemikiran ke
               arah penyusunan hukum agraria baru, pengganti hukum kolonial
               1870.
                   Panitia Agraria Yogya terbentuk dengan Penetapan Presiden
               Republik Indonesia No. 16 dan 17/1948. Panitia ini berpendapat
               bahwa untuk mewujudkan masyarakat makmur yang bebas dari
               penindasan, harus ada pembatasan luas tanah ke bawah dan ke
               atas. Belum ada ketetapan angka yang dapat dipakai untuk selu-
               ruh Indonesia. Di Jawa direncanakan minimum 2 ha dan maksi-
               mum 10 ha. 58


                   56  Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia: Sejarah Pembentukan UUPA, Isi
               dan Pelaksanaannya, Jilid 1 (Jakarta: Djambatan, 2007 [edisi ke-11]), hal. 125.
               Uraian mengenai kepanitian dan rancangan ini dapat disimak dalam Gunawan
               Wiradi, Reforma Agraria, Perjalanan yang Belum Berakhir (Bogor dan Bandung:
               Sajogyo Institute, KPA, dan AKATIGA, 2009 [cetakan ke-dua]), hal. 82-86.
                   57  Tentang panitia ini simak, Iman Soetiknjo, Proses Terjadinya UUPA:
               Peranserta Seksi Agraria Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta: GMU Press, 1987).
                   58  Moch. Tauchid, Masalah Agraria sebagai Masalah Penghidupan dan
               Kemakmuran Rakyat Indonesia (Yogyakarta: Pewarta, 2009), hal. 503. Angka “2
               hektar” dan “10 hektar” masih menjadi “misteri”. Angka itu muncul dari tulisan
               berbahasa Belanda anonim yang sampai saat ini tidak diketahui siapa penulisnya.
               Lihat juga uraian Ben White dalam lingkar belajar LIBRA, Pusat Kajian Pedesaan
               UGM, 13 Juli 2008. Penentuannya didasarkan pada penghitungan agronomis
               semata, dan mengindahkan faktor aplikatifnya untuk kasus Jawa. Maka tidak
               mengherankan bahwa salah satu kesimpulan Wolf Ladejinsky atas kegagalan
               pelaksanaan UUPA adalah tidak realistisnya angka tersebut.
               106
   154   155   156   157   158   159   160   161   162   163   164