Page 162 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 162
Melacak Sejarah Pemikiran Agraria
Cibodas. Waktu itu sekelompok mahasiswa sedang melakukan riset
di daerah itu. Saya naik ke lereng-lereng gunung bersama seorang
ahli ekonomi hebat, Anwas Adiwilaga, dan sekelompok mahasiswa.
Hal pertama yang mencengangkan kami adalah bahwa para petani
itu masih tinggal di sana, meskipun tiga tahun kontrak telah
lewat”. 61
Wertheim bersama Anwas Adiwilaga menyaksikan
bagaimana kaum tani di lereng bersiasat atas kontrak tanam yang
dipaksakan oleh Dinas Kehutanan. Petani merusak pinus-pinus
itu di malam hari agar dinas kehutanan menggantinya dengan
yang baru, berharap agar pohon itu tidak cepat menjadi besar
dan menghalangi tanaman yang dikelola oleh petani. Tindakan
ini menunjukkan gejala lapar tanah, dan kaum tani tidak yakin
akan bisa mendapatkan lahan lagi untuk diolah jika lereng
gunung telah dikuasai oleh tumbuhan pinus milik dinas.
3. Studi H ten Dam di Cibodas
Bersama para mahasiswa dan dosen Fakultas Pertanian UI,
Bogor, H ten Dam melakukan kajian tentang struktur sosial
masyarakat dan potensi kelembagaan lokal (yakni koperasi), di
Cibodas, Lembang, Bandung. H. ten Dam adalah Insinyur muda
lulusan Universitas Wageningen, Belanda. Salah satu yang
membantu riset tersebut adalah Kampto Utomo.
Di dalam riset itu diurai juga sejarah desa yang menjelang
akhir abad 19 terbentuk di tengah hutan oleh petani-peneruka
yang berasal dari desa-desa di dekat Bandung. Mereka dilibatkan
dalam rangka kerja paksa bagi orang desa di Jawa Barat. Pene-
litian H ten Dam berlangsung antara tahun 1950 hingga 1954.
Penelitian ini menunjukkan adanya struktur masyarakat
Desa Cibodas yang terdiri dari dua kelompok sosial dengan
perbedaan sangat mendasar. Perbedaan tersebut didasarkan pada
akses terhadap faktor produksi, yakni tanah. Kelompok pertama
adalah kelompok buruh tani dan kelompok kedua adalah petani
61 W. F. Wertheim, Elite vs Massa (Yogyakarta: Resist dan LIBRA, 2009),
hal. 97.
109

