Page 157 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 157
Ahmad Nashih Luthfi
Gerakan Tani, Djawatan Pertanian Rakjat, dan Djawatan Agraria
dalam tubuh Departemen Pertanian; dan riset Aidit dkk. 51
Ben White berusaha menunjukkan dan memperluas dari apa
yang telah disebut oleh Kampto Utomo dalam menunjukkan
kajian apa saja yang termasuk kajian agraria. Ia setidaknya
menyebut 8 kajian, gagasan, dan pengajaran agraria selama peri-
ode ini. 52 Secara berturut-turut akan diuraikan sebagai berikut.
1. Dalam rangka persiapan UUPA
Harus dipahami terlebih dahulu bahwa gagasan restruktu-
risasi penguasaan sumber-sumber agraria telah diusung jauh-jauh
hari oleh para pendiri bangsa dan menjadi tuntutan umum di ne-
gara-negara yang baru saja bebas dari kolonialisme. Di negara-
negara Asia maupun Timur Jauh, tuntutan ini menjadi isu politik
utama setelah mereka terlepas dari kekuasaan kolonial. Mereka
merasakan perlunya segera dibuat perundang-undangan yang
mengurangi biaya sewa tanah dan untuk memberi jaminan atas
terciptanya kondisi keamanan tenurial (security of tenure). 53 Pada
gilirannya tujuan peraturan itu adalah untuk memfasilitasi
transfer kepemilikan tanah kelebihan maksimum kepada kaum
tani penggarap.
Pada masa Jepang, “reforma agraria” sebenarnya telah di-
lakukan melalui inisiatif rakyat sendiri. Rakyat melakukan
reklaiming, pendudukan, dan kemudian mengolah perkebunan-
perkebunan yang sebelumnya dikuasai oleh orang-orang Eropa
terutama Belanda. Pada masa Jepang banyak orang Eropa yang
dimasukkan ke dalam kamp-kamp internira, terbunuh, atau pu-
lang ke negara asal mereka. Tindakan penguasaan oleh rakyat itu
ditoleransi oleh Jepang, bahkan diperoleh dukungan agar tanah
51 Ibid.
52 Ben white, op.cit., hal. 115-118.
53 Klatt, W., “Agrarian Issues in Asia”, International Affairs (Royal Institute
of International Affairs), Vol. 48, No. 3 (Jul., 1972), hal. 395-413.
104

