Page 154 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 154
Melacak Sejarah Pemikiran Agraria
industri batik, rokok kretek, dan lainnya di negeri Mataram, La-
weyan, Kudus, Blitar, hanya menerima 10 hingga 20 sen sehari. 42
Namun demikian, cara pandang yang mengabaikan
diferensasi sosial masyarakat tani itu tidak lebih “strategi politik”
Soekarno yang lebih mengedepankan “kesatuan identitas”
masyarakat Indonesia dan mengalihkannya pada bentuk
perjuangan melawan kolonial. Jika diferensiasi itu ditunjuk-
kannya, maka bisa jadi membahayakan proses integrasi dan
bangunan nasionalisme yang selalu dipropagandakannya. Potensi
adanya pertentangan kelas dalam masyarakat pertanian-pedesaan
dialihkan menjadi pertentangan antara colonizer dengan colonized.
Ideologi memang seringkali tidak bersepadan dengan realitasnya.
Dan Soekarno telah berstrategi memilih-milih mana yang mung-
kin untuk dimunculkan sebagai realitas, dan mana yang diabai-
kannya.
Demikian juga pemikiran Soekarno tentang gerakan perem-
puan. Kaum Marhaeni tidak perlu dipisah-pisahkan dengan
kaum Marhaen sebab akan memperlemah gerakan. Ia menyeru-
kan agar “satu massa aksi, jangan dipisah-pisahkan”. 43
Cara pandang Iwa Kusuma Sumantri dan Soekarno dalam
melihat sejarah Indonesia, khususnya realitas pedesaan, dengan
menghadapkannya pada pertumbuhan kapitalisme sangatlah
menarik untuk diperhatikan. Jika benar bahwa penulisan sejarah
Indonesia dengan cara menghadapkannya pada pertumbuhan
kapitalisme dalam metodologi Marxis atau ekonomi politik telah
(di)hilang(kan) selama beberapa dekade dalam historiografi
Indonesia, apakah pengabaiannya telah berlangsung sejak awal
sebelum terjadi peristiwa 65?
Seminar Sejarah Nasional I pada tahun 1957 tidak memun-
culkan secara eksplisit bagaimana analisa Marxis digunakan. Ber-
bagai prasaran tentang periodisasi dan perdebatan tentang filsa-
fat sejarah (nasional) juga tidak mencerminkan kecenderungan
historiografi Marxis. Moh. Ali sebagai salah satu pemrasaran ke-
42 Soekarno, “Kapitalisme Bangsa Sendiri”, dalam Ibid., hal. 181-182.
43 Soekarno, “Marhaen dan Marhaeni”, dalam Ibid. hal. 247.
101

