Page 149 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 149

Ahmad Nashih Luthfi


               pendidikan yang tidak mengetahui hak-hak politiknya, dan
               berbagai pengalaman organisasi tani.
                   Sebagaimana yang disebutkan dalam Bab II terdahulu, se-
               jarah (pedesaan di) Indonesia adalah sejarah agraria, yaitu ten-
               tang bagaimana tanah sebagai ruang fisik, geografis, dan kemu-
               dian ruang sosial-kultural diatur, dikelola, dan dikuasai. Iwa Ku-
               suma Sumantri menegaskan hal itu. Ia melihat sejarah koloni-
               alisme di Indonesia sebagai sejarah agraria, dan berbagai perso-
               alan agraria yang ada di dalamnya, para aktor terutama petani
               melakukan pergerakan sebagai respons dari sistem penguasaan
               sumber-sumber agraria yang ada.
                   Ia menunjukkan berbagai perlawanan dalam sejarah Indone-
               sia sebagai sejarah pergerakan petani. 29  Dalam Bab I, ia menya-
               jikan overview bahwa gerakan petani terkait dengan eksploitasi
               sumber-sumber agraria melalui sistem Barat maupun feodal.
                   S. Dingley menunjukkan bagaimana eksploitasi terhadap
               kaum petani Indonesia ini pada gilirannya memicu perlawanan
               yang diwujudkan dalam berbagai macam pemberontakan, perang,
               serangan-serangan individual atas para penindas. Berbagai eks-
               presi keagamaan dalam melakukan pergerakan tersebut seringkali
               terjadi. Ia mencontohkan perang Belanda melawan para pengu-
               asa kepulauan Maluku, Ternate dan Tidore, pada tahun 1618-
               1619, dan pada tahun 1856-1858 adalah bentuk dari resistensi
               dan penolakan memproduksi rempah-rempah dan bahan maka-
               nan, karena Belanda membayar mereka dengan harga yang terla-
               lu murah. Resistensi dari para petani ini didukung oleh Raja (Sul-
               tan) Ternate dan Tidore sehingga Belanda menyatakan perang
               atas mereka.
                   Demikian juga pemberontakan petani di Minangkabau pada
               tahun 1822 hingga tahun 1841. Gerakan petani ini dalam
               historiografi Indonesia sering dikenal dengan “Perang Padri”,
               konflik budaya dan agama antara kelompok adat dan agama, tua


                   29  Uraian didasarkan pada naskah tersebut yang telah diterjemahkan dan
               belum dipublikasikan, S. Dingley, Gerakan Petani di Indonesia (Penerjemah:
               Ruslani), tt., tt.
               96
   144   145   146   147   148   149   150   151   152   153   154